POSTED: 24 April 2020

 Bagi sebagian orang, menjabat sebagai manajer adalah posisi yang didambakan dan prestius. Apalagi usia baru 36 tahun dan sudah mendapatkan gaji di angka 2 digit. Seperti itulah sukses yang dirasakan Eriyanto Eko Saputro yang sempat 14 tahun bekerja di salah satu bank swasta.

Tapi di tengah posisi manajer yang sudah diraihnya, Eriyanto malah lebih tertarik menjadi pengusaha makanan.  Sukses pun diraih Eriyanto, yang dulu hanyalah seorang manajer menjadi owner (pemilik) usaha dengan jumlah karyawan 100 orang. Papa Cookies juga mulai bermitra dan membuka cabang baru.

Hingga awal tahun 2020, Papa Cookies secara keseluruhan telah memiliki 11 outlet yang mampu menghabiskan sekitar 300 sak terigu produksi Bogasari. Bagi siapa saja yang ingin bermitra dengan Papa Cookies bisa menghubungi ayah dua orang anak ini langsung di no: +62-895-1214-5759.  Berkat kesuksesannya dalam berusaha dan menebar manfaat bagi sesama, ia terpilih sebagai The Best of Category Gold Bogasari SME Award 2019.

Ide membuka usaha diawali dari pengamatan Eriyanto  terhadap berbagai proposal penawaran pasokan makanan. “Saya sering lihat-lihat proposal orang yang menjual makanan, kok untungnya besar-besar. Di tahun 2010, saya coba kirimkan istri untuk membuat kue di salah satu lembaga kursus pemerintah. Jadi awalnya, itu istri yang buat kue, saya yang jualkan di kantor,” kenang Eriyanto.

Dari modal hanya Rp 100 ribu, ia bisa dapat uang Rp 200 ribu. Tak jarang juga ia mendapat komentar positif tentang kue yang dijualnya. Hal ini membuatnya semakin yakin untuk berhenti dan beralih profesi menjadi pengusaha kue dan roti.

 

Belajar Di BBC

Sepanjang tahun 2010 itu, ia membuat kue musiman dan roti yang dikemasnya bersama gorengan dan kacang dalam bentuk snack box. Ia menjualnya ke beberapa instansi pemerintah dengan harga Rp 3. 000-5.000. “Papa Cookies” itulah nama usaha yang ditekuninya sejak tahun 2010.  

Di tahun 2011 Eriyanto memberanikan diri untuk membuka outlet.  “Kita dapat tempat untuk buka toko kecil-kecilan. Pas saya buka toko kok tidak laku. Ternyata setelah saya cek,  snack box kita laku karena sesuai dengan budget di pemerintahan. Jadi pesanannya banyak sampai beribu-ribu, tapi roti di outlet-nya tidak laku,” ungkapnya.

Ia tak menyerah. Di tahun 2012 Eriyanto mulai memperbaiki kualitas produknya dengan belajar di Bogasari Baking Center (BBC). Ia pun semakin lebih paham mengenai kegunaan bahan dalam setiap proses pembuatan kue dan roti, termasuk dalam pemilihan tepung terigunya. Ia memilih untuk menggunakan tepung Bogasari  karena bisa membuat roti dan kue lebih banyak dan enak.

Sekitar 2 tahun berjalan, Eriyanto mampu membuka outlet baru dengan ukuran yang lebih besar dan konsep yang lebih moderen.  “Kita merubah konsep menjual roti yang murah menjadi menjual roti yang enak. Jadi sekarang roti yang kami jual itu semuanya harus enak. Walaupun demikian, kami tetap berusaha meminimalkan biaya. Agar masih masuk ke kantong mereka semua,” jelas pria kelahiran tahun 1974 itu.

Alhasil usahanya berkembang.  Selain outlet dan konsumi tepung terigu meningkat, Papa Cookies juga sudah memiliki puluhan varian roti yang dijual dengan harga mulai Rp 5.500 - Rp 42.000. “Yang menjadi best seller ialah Chiffon Papa Cookies khas Sragen,” tambahnya.

Di sela kesibukan pencapaian usahanya, Eriyanto tetap peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Ia selalu menyediakan beasiswa bagi anak karyawan atau warga di sekitar tempat usahanya. Papa Cookies juga rutin membagikan air bersih ke beberapa daerah yang terdampak kekeringan, dan melakukan beberapa kegiatan sosial lainnya.

“Yang pasti kalau mau buka usaha jangan takut melangkah dan cintailah apa yang sedang

ditekuni,” ucap Alumni STIE YKPN Yogyakarta ini. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel