POSTED: 21 May 2020

 Hidup terus berputar dan merupakan proses belajar. Seperti halnya Slamet Raharjo yang berlatar belakang pengajar desain grafis, justru berhasil sebagai pengusaha tortilla atau kulit kebab. Dalam sehari usahanya yang bernama Indo Frozen Food berhasil memproduksi dan memasarkan ribuan lembar kulit kebab ke berbagai daerah.

Empat tahun pertama, pelaku usaha di Surabaya ini memang hanya menjual tortilla milik temannya.  “Saya basic-nya adalah pengajar desain grafis. Karena perusahan tempat bekerja dulu ada kendala keuangaan. Jadi, mau tidak mau saya harus mencari pekerjaan lain. Kemudian, ada salah satu pelanggan saya yang menawarkan untuk menjadi re-seller tortilla miliknya. Itu terjadi 9 tahun silam, atau sekitar tahun 2011,” ungkap Slamet.

Sempat mengalami kelangkaan tortilla di tahun 2016, pria kelahiran 1 Februari 1976 itu pun mulai kursus membuat tortilla di salah satu lembaga swasta di Surabaya. Akhirnya di tahun itu juga ia langsung memberanikan diri untuk produksi tortilla sendiri.

Awalnya ia dibantu istri dan 1 orang karyawan hanya memproduksi 3-5 sak terigu Segitiga Biru.  Satu sak atau 25 kg terigu Segitiga Biru bisa membuat kurang lebih 25 pack tortilla berukuran sedang, atau 22-23 pack untuk tortilla ukuran besar. Satu pack berisi 20 lembar kulit kebab.

Lambat laun, penjualan mulai membaik dan produksi pun meningkat. Hingga Awal tahun 2020  Indo Frozen Food sudah memiliki 1 outlet dan 1 rumah produksi yang mampu menghabiskan minimal 20 sak @25 kg terigu Segitiga Biru per hari atau sekitar 600-700 sak yang setara dengan 15 ton per bulannya. Dengan kata lain saat ini Indo Frozen Food memproduksi minimal 10 ribu lembar  kulit kebab per harinya.

“Selain menjual secara online, kini ia memiliki 1 outlet untuk melayani pembelian langsung secara offline. Outlet-nya buka dari pukul 07.00-19.00 WIB. Hari Minggu juga kita buka. Sedangkan untuk produksi hanya sampai jam 16.00 WIB,” tambahnya.

Slamet mengaku memilih terigu Segitiga Biru produksi Bogasari karena tortilla yang dihasilkannya menjadi lebih bagus. Tidak mudah sobek dan bisa menyerap bumbu dengan baik. Dari sisi produksinya pun lebih cepat ketika dilakukan penge-press-an.

“Karena penjualan awal-awal masih sedikit, kami menambahkan sosis dan nugget untuk mendongkrak penjulan. Kami pun membuat variasi baru pada tortillanya, jadi totalnya ada 4 varian tortilla yang kami jual, yakni crispy, lentur, black papper dan pedas. Bisa dibilang juga, kami memfokuskan diri menjadi penyedia bahan baku kebab,” urai Slamte.  

Guna menjalankan aktivitas usahanya, pria berjanggut tipis itu sekarang dibantu sekitar 25 orang untuk penjualan dan 30 orang untuk  produksi.  Demi menjaga pelanggan, ia tidak berani menaikan harga jual produknya dari dulu hingga sekarang. Untuk tortilla crispy dan lentur, harganya masih tetap Rp 24 ribu. Sedangkan rasa pedas dan black papper harganya Rp 30 ribu.

Dalam waktu dekat Slamet berencana menambah outlet untuk mengakomodir pelanggannya yang berada di wilayah sekitaran Surabaya. Ia juga sedang mencanangkan program pelatihan untuk beberapa orang yang diproyeksikan menjadi re-seller Indo Frozen Food.

 Berkat kemajuan usahanya dengan memanfaatkan teknologi internet hingga bisa memasarkan ke berbagai daerah, Indo Frozen Food pun terpilih sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Gold. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel