POSTED: 08 April 2020

 Ada pepatah “dimana ada kemauan disitu ada jalan”. Begitulah kira-kira semangat yang dimiliki seorang wanita bernama Wiji Erniati asal Jambi. Meski modal dan pengetahuannya di bidang kuliner berbasis terigu sangat terbatas, tapi ia tak mau menyerah.

“Saya sudah hampir putus asa. Saya mau jualan sembako kembali juga sudah tak punya modal. Mau kerja, usia sudah tidak memungkinkan. Dari skill pun sepertinya saya sudah ketinggalan dengan anak-anak yang lebih muda. Jadi kayaknya sudah tak mungkin lagi ada perusahaan yang menampung saya untuk bekerja,” ucap Wiji  seraya mengenang di masa susah itu

Tiga tahun menjalankan usaha dengan susah payah. Wanita yang sebelumnya hanya pedagang sembako kecil ini bahkan nyaris menyerah. Ia hanya bisa pasrah namun percaya bahwa Tuhan akan mengatur segalanya dengan baik. Alahasil, usaha roti yang ditekuninya secara perlahan dan mencicil membuahkan hasil gemilang.

Wiji Erniati jadi juragan roti di Jambi dengan merek usaha “Ivan Bakery”. Ia memiliki 3 oulet di sekitar Jambi dan mempekerjakan 30 karyawan. Namun di tengah suksesnya, Wanita berusia 47 tahun ini tak lupa bersyukur. Salah satunya, hampir setiap Minggu pagi, ia berbagi dengan anak yatim penghuni panti.

Perjalanan usahanya dimulai sejak tahun 2002 silam. Saat itu ia masih menjadi pedagang sembako (sembilan bahan pokok). Karena tidak begitu laris, ia memanfaatkan terigu Segitiga Biru dan Lencana Merah yang dijualnya untuk membuat berbagai makanan cemilan keluarga.    

“Toko sembakonya sepi. Saya mulaih berpikir bagaimana caranya agar tidak terlalu rugi. Karena jualan saya salah satunya adalah tepung terigu, saya coba kreasikan jadi camilan keluarga karena doyan makan dan agar tidak terbuang. Sejak itulah saya sering membuat kue-kue,” jelas ibu 2 orang anak ini.

Kurang lebih 1 tahun berjalan, Wiji memutuskan untuk menutup toko sembako dan fokus buka usaha jajanan pasar. Awal produksi hanya 4 – 10 kg terigu per hari. Produk buatannya hanya dititip ke toko-toko di sekitar rumahnya.

Tahun 2005, ia mengadu peruntungan dengan membuka outlet. Sejak itulah ia memberikan nama pada usahanya yakni “Ivan Bakery”. Merek usaha ini diambil dari nama anak pertamanya Ivan.  “Selain jajanan pasar berupa wingko babat, pia, dan bolu, Ivan Bakery memproduksi roti manis, roti tawar dan donat. Saat itu, saya dan suami dibantu 4 orang karyawan,” papar Wiji.

Produk Ivan Bakery mulai mendapat posisi di hati warga Jambi. Setiap tahun pelanggannya bertambah. Tahun 2009 banyak pelanggannya memesan roti dengan varian yang belum ada  di Ivan Bakery. Karena itulah Wiji rajin mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan.  

Kini Ivan Bakery mampu menghabiskan sekitar 250 sak terigu Segitiga Biru dan Lencana Merah atau 6 ton lebih dalam sebulan untuk membuat 130 varian rasa roti dan berbagai jenis jajanan pasar. Produk yang menjadi favorit dari dulu sampai saat ini ialah martabak telor khas Ivan Bakery.

“Harga jual produk kami pun bisa dibilang murah. Mulai dari Rp 1.500 per potongnya untuk jajanan tradisional, Rp 3.000-12.000 per potongnya untuk cake, dan Rp 25.000-60.000 untuk kue loyangan. Sedangkan untuk kue tart  harganya mulai dari Rp 55.000 sampai tak terbatas tergantung permintaan. Kami menjualnya di 3 outlet yang berlokasi masih di wilayah Jambi,” jelas wanita 47 tahun itu.

Walau sudah sukses, Wiji tak melupakan jasa orang-orang yang membantu membesarkan Ivan Bakery. Jadi saat mereka ada acara dan butuh konsumsi, Wiji siap memberi. Bahkan hampir setiap Minggu pagi, ia selalu berbagi dengan anak yatim penghuni panti.

“Hampir setiap Jumat dan Minggu pagi kami kirim roti ke masjid dan beberapa panti. Kami juga mempunyai satu bangunan yang digunakan sebagai tempat menghapal Al-Quran. Semoga Ivan Bakery bisa menjadi corong bagi kami untuk terus berbagi,” ucap Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Silver ini. (EGI)  

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.