POSTED: 11 August 2020

 Darwin Sofjan memulai usaha roti rumahan sekitar tahun 1992 silam. Karena berasal dari produksi rumahan itulah ia memberikan nama usahanya “Home Made Bakery”. Saat itu, ia hanya dibantu istri dan 1 karyawan untuk membuat roti dan menjualnya di stan yang ia sebut I-land unit. Ditambah dengan 15 sales yang berjualan secara keliling menggunakan sepeda.

“Kita memang mempersiapkan usaha ini dengan matang. Sebelum mulai produksi saya belajar ke Singapura, Jepang, dan Taiwan selama kurang lebih 6 bulan untuk belajar membuat roti dan pemasarannya,” ungkap Darwin.

Karena itulah sejak awal usahanya sudah bisa menghabiskan 1-2 sak @ 25 kg terigu Cakra Kembar produksi Bogasari untuk membuat roti dengan 15 varian rasa, termasuk roti tawar. Harga jualnya pun masih tergolong murah  hanya sekitar Rp 700. Sekitar tahun 1993, Darwin mendapatkan tempat di Mall Kelapa Gading yang berdiri sejak tahun 1990-an. Sejak itu, mulailah ia masuk ke mall-mall di Jakarta.

Tahun 1995 ia mengganti armada distribusi dari sepeda miliknya dengan sepeda motor. Alhasil, merek Home Made Bakery menyebar dengan cukup cepat. Namun di tahun 1998 akibat krisis moneter harga-harga bahan melonjak 3-4 kali lipat. Banyak usaha makanan berguguran saat itu, tapi Darwin memilih bertahan dengan mengurangi produksinya.

Sekitar 2-3 bulan ia paksakan dengan berusaha menaikan harga secara perlahan. “Tahun 1998 itu benar-benar seperti bumerang untuk usaha makanan. Tepung terigu harganya melonjak 4 kali lipat, bahkan bisa lebih. Belum lagi bahan baku yang lainnya. Tapi itu pilihan, you mau brand-nya bertahan atau tidak? Kita pilih bertahan, dan alhasil brand kita masih eksis sampai sekarang,” ucap pria asli kelahiran Siantar, Sumatera Utara ini.  

Seturut dengan pemulihan ekonomi nasional, usaha Home Made Bakery pun mulai bangkit dan belajar mengikuti perkembangan zaman. Kurang lebih 27 tahun setelah Home Made Bakery berdiri, ia berevolusi menjadi salah satu perusahaan roti yang cukup besar di Jakarta. Atas kesuksesan inilah Home Made Bakery terpilih sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Platinum.

Yang semula gerainya hanya 1, bertambah menjadi 21 yang tersebar di bilangan Jakarta. Selain menjual secara offline melalui outlet, Darwin  juga sudah menjualnya secara online melalui Instagram di @homemadebakeryid. Ditambah 20 armada motornya yang siap berkeliling

mendatangi rumah-rumah warga.

“Sekarang zamannya sudah beda. Kita tidak bisa mempertahankan pemikiran lama. Sekarang Home Made sudah sangat inovatif. Mau offline ada, mau online juga ada,” jelas pria yang pernah berprofesi sebagai agen distribusi film itu.

Dalam sehari Home Made Bakery bisa menghabiskan 50 sak tepung Bogasari atau setara 38 ton per bulannya. Tepung terigu Bogasari yang dipakai saat ini adalah Cakra Kembar untuk membuat roti, Segitiga Biru untuk cake, dan terigu Naturich untuk membuat roti.

Selain produksi ribuan roti setiap hari, juga cake ulang tahun dengan harga di kisaran Rp 200.000 – Rp 500.000. Sedangkan cake custom berada di kisaran Rp 1,6 juta atau sesuai dengan model permintaan pelanggan.

Dalam waktu dekat, pria kelahiran tahun 1963 ini berencana mengembangkan usaha dengan konsep cafe sehingga para pengunjung semakin santai menikmati roti buatannya. Sesuai dengan slogan miliknya yakni “Its Feel Like Home” dan “Taste The Different”. Ia ingin semua orang yang terlibat dalam usahanya merasa aman dan nyaman seperti berada di rumah sendiri. Namun, ia tetap ingin menyajikan sesuatu yang berbeda dengan usaha roti lainnya.

“Jadi seperti berada di rumah sendiri. Jika you ada masalah atau keluhan, tolong sampaikan, kasih kita masukan. Home Made Bakery bisa besar seperti ini berkat masukan dari customer,” ucap Darwin. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel