POSTED: 18 December 2018

 Sudah 95 tahun, atau hampir satu abad Rammona Bakery berdiri, namun rasa dan ciri khas tetap terjaga. Dari generasi ke generasi, Rammona Bakery bahkan berkembang di beberapa kota. Berawal di Bandung tahun 1923, lalu buka cabang baru di Tasikmalaya tahun 1941, terakhir tahun 1980 an di Purwokerto. Dari generasi ke generasi, dan Raymond Eka Febrio adalah generasi ketiga yang melanjutkan di Purwokerto. 

“Usaha ini diawali kakek saya Iyan Sofyan, yang  dulunya bekerja di perusahaan roti, lalu sekitar tahun 1923 buka usaha roti sendiri di Bandung. Akhirnya kakek hijrah ke Tasikmalaya dan membuka toko lagi yang diberi nama Rammona Bakery dari tahun 1941 hingga sekarang. Tahun 1980-an buka cabang lagi di Purwokerto. Sekitar tahun 2000 saya meneruskan yang di Purwokerto,”ungkap Raymond. 

“Outlet  Rammona ada yang di Bandung, di Tasikmalaya, dan di Purwokerto. Untuk yang di Tasik, hanya ada satu, dan mungkin salah satu toko roti tertua di Tasik. Di Bandung kita ada dua outlet di purwokerto sudah ada 3 outlet dan kemungkinan akan bertambah menjadi 5 mungkin,” jelasnya.

Dalam bahasa Sunda, rammo itu berarti karya tangan. Jadi merek Roti Rammona dapat diartikan roti hasil karya tangan sendiri. Rammona yang di Tasikmalaya diteruskan paman atau adik dari ayahnya  Raymond. Sedangkan yang di Bandung diteruskan oleh kedua adiknya. Raymond melanjutkan usaha yang di Purwkerto. 

Usaha Rammona Bakery yang dijalankan Raymond di Purwokerto saat ini sudah memiliki 3 outlet. Di awal meneruskan usaha, ia hanya memakai 1 sampai 3 sak terigu Bogasari merek Cakra Kembar. Dalam perjalanannya, ia lebih memilih memakai terigu Bogasari yang lebih spesial untuk roti yakni Cakra Kembar Emas. Alhasil, dalam sehari Rammona Bakery yang di Purwokerto menghabiskan sampai 100 sak terigu Cakra Kembar Emas untuk kebutuhan seluruh outlet. 

 “Cakra Kembar Emas itu kualitasnya yang menurut saya paling stabil. Sudah kurang lebih 10 tahun kami menggunakan itu. Kami tidak pernah mengalami lonjakan yang signifikan, selalu stabil. Makanya kita selalu pilih itu. Menjaga kualitas produk itu sangatlah penting,“ ucap Raymond yang saat ini memiliki 20 karyawan. 

Ia mengakui, mempertahankan usaha lebih sulit daripada merintisnya. Sama halnya seperti Martabak 88 yang baru ia jalankan. Hal utama yang harus diperhatikan adalah bagian produksinya. Setelah itu manajemen sebagai pendukung, karena yang namanya usaha pasti ada pasang surut dan kita sebagai pelaku usaha harus sabar dan semangat dalam menghadapinya.

Raymond membagikan sedikit tips apabila hendak memulai sesuatu yang baru,  yakni jangan pernah berhenti untuk bermimpi. Kalau kita bisa menciptakan, itu bisa menjadi peluang yang sangat luar biasa sekali dan jangan lupa untuk mengembangkannya melalui kreasi dan inovasi.

Raymond adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Dua adiknya juga menekuni usaha makanan berbasis terigu. Anak ke-2 menjalankan Rammona Bakery yang di Bandung, sedangkan si bungsu membuka usaha cake di Jakarta tapi tidak pakai merek Rammona. Dan hanya si bungsu yang belajar khusus membuat pastry dan cake. Sedangkan Raymond dan adik nomor 2 belajar otodidak karena lahir di tengah keluarga pengsuaha roti. 

“Kebetulan kami tiga bersaudara menekuni usaha roti semua. Walau sekarang ada yang berkembang menjadi cake, jadi macam-macam cake gitu yang mengelola adik saya yang bungsu. Selain itu, saat ini saya sedang mengembangkan usaha martabak, namun bukan dengan nama Rammona, tapi dengan nama Martabak 88. Bahkan saya berencana ekspansi buka usaha mie karena semua masyarakat menyukainya,” tambahnya.

Usaha martabak dijalankannya sudah sekitar 5 tahun. Alasannya selain banyak yang suka, belajar pembuatannya pun tidak sesulit membuat roti. Saat ini usaha martabaknya sudah ada di di Purwokerto, Semarang, Pangandaran, dan Cilacap. “Kalau roti kan ada jeda, dari masak harus difermentasi dulu. Kalau martabak lebih seperti cake, diolah lalu dibikin di wajannya lalu bisa dijual. Yang pasti lebih simple,” ujar Raymond. (REM/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel