POSTED: 12 June 2019

Adalah Ardhy, pria berusia 44 tahun  yang sukses menjadi pengusaha martabak di Kota Medan, Sumatera Utara. Ia merintis usaha martabak  tahun 1996 dengan modal Rp 3 juta dari hasil menjual motor kesayangannya. Berawal dari jualan berupa lapak di emperan toko, sekitar Jalan Setiabudi, Medan, kini sudah memiliki 4 kios.

Usaha “Martabak Ardhy Medan” semakin berkembang pesat setelah mulai memasarkan produknya melalui platform digital. Baik di sosial media, website, bahkan sudah kerja sama dengan beberapa aplikasi pesan antar makanan.

Dalam sebulan, merek “Martabak Ardhy Medan” menghabiskan  90  zak terigu Bogasari atau setara dengan 2 ton lebih.  Sehari-harinya ia dibantu 16 karyawan di bagian produksi dan penjualan. Kesuksesan pria lulusan SMA 1 Payakumbuh berhasil mengantarnya menjadi nominator Bogasari SME Award 2018 kategori Silver yang diumumkan akhir tahun lalu.

Sebelum usaha martabak, Ardhy adalah chef di salah satu restoran martabak kubang di Padang. Selama 2 tahun, sambil kerja ia pun belajar seluk-beluk usaha kuliner . “Kebetulan ada yang ngajak merantau ke Medan, saya punya keahlian membuat martabak, jadi saya coba jualan martabak di Medan. Awalnya saya tidak berpikir akan sebesar ini. Semua mengalir begitu saja, tapi waktu itu saya punya cita-cita ingin buka restoran sendiri,” ungkapnya.

Usahanya  di awal bernama “Martabak Spesial Keju Bandung”. Mulai pukul 4 sore sampai 10 malam ia jualan sendirian. Setahun berjalan, martabak buatannya kurang diminati masyarakat. Dalam sehari paling banyak terjual 5 kotak dengan harga per kotak paling mahal Rp 8 ribu.

Ardhy pantang menyerah. Setahun  berjualan ia tetap berusaha menabung hingga akhirnya terkumpul Rp 18 juta. Dari semula hanya berjualan berupa lapak emperan, ia pun memutuskan membuat gerobak dan tetap berjualan di sekitar Jalan Setiabudi, Medan.

Di awal tahun 1997, pria kelahiran Padang ini membuat martabak manis dan martabak kubang dengan 12 varian rasa, yang diantaranya adalah cokelat, kacang, susu, dan keju. “Martabak Kubang itu khas kampung halaman saya,” katanya.

Ardhy memilih terigu Segitiga Biru karena hasilnya pas dan sesuai dengan keinginannya.  “Saya tidak berencana mengganti dengan tepung lain karena risikonya sangat tinggi. Takut nanti berubah kualitas produknya. Saya lebih memilih menaikkan harga daripada mengurangi kualitas,” jelas ayah 3 anak ini.

Seperti tahun 1997-1998, harga terigu melambung tinggi sampai 5 kali lipat. Usaha saya sempat krisis selama sekitar 6 bulan. “Saat itu, saya malah tidak menaikan harga. Prinsip saya, selama masih bisa bertahan, akan saya terus lakukan. Waktu itu lebih berharga barang dibandingkan uang,” kenangnya.

Seiring membaiknya ekonomi Indonesia usahanya pun kembali stabil, bahkan cenderung meningkat. Tahun 2001 nama usahanya diganti dari “Martabak Spesial Keju Bandung” jadi “Martabak Ardhy Medan”. Perlahan usahanya terus meningkat dan tahun 2010  berhasil membuka kios pertama dengan kapasitas produksi 50 kilo terigu Segitiga Biru  per hari.

Ardhy terus berinovasi. Tidak hanya produk, tapi juga pemasaran. Tahun 2014 ia mulai memanfaatkan  media digital untuk penjualan, yakni di instagram dengan akun @martabakardhy dan website dengan alamat www.martabakardhy.com.  Pembuatan dan pengelolaan media digital ini oleh putri sulungnya bernama Sarah Ardhyna yang baru saja diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur undangan. 

“Dengan menggunakan media digital, jangkauan pemasaran dari usaha saya menjadi lebih luas dan lebih jauh. Bahkan pernah ada pesanan dari daerah Banda Aceh, ”ungkapnya.

Martabak Ardhy Medan juga dapat memesan melalui aplikasi pengiriman makanan seperti Go-Food dan Grab-Food. Dengan beriklan melalui platform digital, ia menerima banyak pelanggan baru.  “Memang ada pelanggan baru yang mewakili masyarakat yang ingin berwisata kuliner di Medan atau memang sedang mencari martabak di wilayah Medan melalui internet,” ucap Ardhy.

 Tahun 2017, sebenarnya ia sempat buka cabang di Pekanbaru, Riau. Tapi hanya bertahan 1 tahun. Dari situ ia belajar jika ingin membuka cabang di kota lain, harus disiapkan lebih matang. Rencananya tahun ini Ardhy akan menambah 2 titik penjualan baru di Kota Medan. "Mungkin ke depan setelah putri saya kuliah di IPB, saya akan buka cabang di sana," harapnya.

"Saat ini totalnya ada 29 rasa yang dijual dengan harga Rp 26 - Rp 100 ribu. Beberapa inovasinya adalah martabak tobleron, dan ovaltine. dan unggah di instagramnya ”tambahnya.  (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel