POSTED: 24 July 2020

 Siapapun pastinya bangga bisa bertemu langsung dengan Presiden. Apalagi bagi Sugino, yang sehari-harinya berdagang pangsit goreng di Jalan Kampung Utan Bahagia RT 02/RW 04, Cengkareng, Jakarta  Barat. Ia tak menyangka dagangannya yang viral di media sosial sejak Juni 2020, sampai membuat Presiden Republik Indonesia tertarik menyantapnya.

Kamis (23/7/2020) pedagang pangsit goreng yang sedang viral dan akrab disapa Le Gino ini bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Pedagang pangsit goreng kelahiran Solo 20 Agustus 1958 ini bahkan sempat memasak pangsit gorengnya yang sedang viral di Istana Negara. Ia memasak lengkap dengan celemek Bogasari dan ditemani putrinya, Atin.  

Sugino, kakek berusia 62 tahun ini memang biasa disapa pembeli dan penduduk sekitar Le Gino. Karena itulah dagangannya dikenal dengan merek “Pangsit Goreng Le Gino”. Asal mula viralnya Pangsit Goreng Le Gino adalah saat antrean pembeli belakangan ini atau tepatnya bulan Juni lalu. Padahal menu pangsit goreng lengkap dengan sayuran dan bumbu ini sebenarnya sudah dijual Le Gino sejak 2012 di daerah Cengkareng itu.

Bulan Juni lalu, seorang youtuber membuat video dan memuatnya di akun youtube @Boengkoes. “Awalnya ada tetangga membeli banyak pangsit goreng kami dan membawanya pulang. Lalu, ia merekomendasikan Youtuber Bongkoes untuk datang dan mencicipi Pangsit Le Gino. Tak lama si Bongkoes ini datang. Kami pun juga kaget dan kelabakan karena ada Youtuber yang mencicipi. Dari sanalah berbagai Youtuberbahkan stasiun TV datang untuk meliput,” ungkap Daryanti (57) istri Sugino.

Pangsit Goreng Le Gino pun makin populer dan makin marak diberitakan di media online bahkan sejumlah saluran televisi. “Saya tidak menyangka pangsit goreng kami bisa viral seperti ini. Karena kami sudah berjualan sejak 1993,” ucap Daryanti haru.

Sejak awal usaha, Le Gino memakai tepung terigu Cakra Kembar produk Bogasari. Selain membuat pangsit, juga bahan membuat mie goreng. Anggota Bogasari Mitra Card (BMC) dengan jenis kartu keanggotaan Silver ini bisa menghabiskan minimal 50 kilogram terigu Cakra Kembar dalam sehari. Atau setara dengan 1,5 ton per bulannya.

Pekerjaan awal Le Gino hanyalah seorang pertugas kebersihan. Kemudian alih profesi menjadi juru masak di salah satu restoran. Di Tahun 1993, Le Gino pun memutuskan untukbuka usaha makanan sendiri.

“Waktu itu belum berjualan pangsit goreng, tapi gado-gado dan soto. Tempatnya pun di rumah kami sendiri dan di dalam gang. Baru tahun 2012 memutuskan untuk pindah ke depan gang yang tidak jauh dari rumah sekitar 200 meter, karena sudah tidak ada yang menempati,”papar Le Gino.

 

Buah Kegigihan

Di awal 2012 itu juga, Le Gino memberanikan diri membuat mie goreng dan nasi goreng.Sedangkan pangsit goreng baru dijual kalau ada yang pesan. Setelah coba bereksperimen,akhirnya pangsit goreng jadi menu favorit para pelanggan.

Usaha Le Gino buka 5 sore sampai pertengahan malam atau pukul 24.00. Produksi bahan dilakukan sejak pagi hari. Sehingga saat mulai berjualan sore hari tinggal mengolah dengan bumbu masak.

Sejak viral di media sosial, penjualan meningkat drastis sehingga banyak pembeli yang harus antre dan pesan beberapa hari sebelumnya. Masa antrean bisa sampai 5 hari. Akhirnya, Le Gino memutuskan untuk hanya menjual 200 porsi dalam sehari. Jika kehabisan dapat mencatat untuk mengantre di hari berikutnya.

Total karyawan saat ini 12 orang dan Le Gino sebagai chef utama. Menantu yang bernama Walito (41) dan saudaranya pun ikut membantu sebagai koki untuk meracik masakan. Istri, cucu, hingga tetangga ikut membantu di dapur untuk menyiapkan pangsit, mie, dan berbagai bahan makanan lainnya. Selebihnya bantu mencatat pesanan ataupun pengemasan. Harga setiap makanannya beragam, namun untuk menu yang spesial dijual seharga Rp 20.000.

“Kami tetap yakin makanan yang kami sajikan selalu enak meskipun banyak permintaan, kami tetap menjaga kualitas bahan makanan yang baik seperti daging yang fresh serta pangsit dan mie yang dibuat dengan terigu Cakra Kembar dari Bogasari sehingga pangsit yang dihasilkan bertekstur lembuat dan mie yang kenyal,” ujar Daryanti.

Istri Le Gino ini berharap usaha suaminya dapat dilanjutkan oleh kelima anaknya.  Namun, untuk saat ini, ia ataupun Le Gino belum terpikirkan untuk pindah dari kedai sederhana yang hanya ditutupi dengan terpal seadanya dan tanpa meja-meja seperti cafe pada umumnya.

“Kami sudah nyaman disini, karena banyak tetangga sekitar yang membantu jualan. Kalau pun pindah juga harus beradaptasi dengan lingkungan. Apalagi sedang wabah Covid 19 seperti saat ini. Pastinya butuh penyesuaian,” tambah Daryanti. (REM)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel