POSTED: 19 March 2019

Pepatah “Dimana ada kemauan di situ ada jalan” mungkin pas untuk menggambarkan perjuangan Erna Susilowati membangun usaha Tulip Stars Bakery. Sempat dibohongi sales sampai akhirnya kehabisan modal, namun Erna terus mencari peluang.  Alhasil Erna kini sudah memiliki 4 toko gerai Tulip Stars Bakery dan 60 karyawan.  Pada Bogasari SME (Small Medium Enterprise) Award 2019 lalu, ia terpilih menjadi nominator untuk kategori Silver.

Sebelum buka usaha bakery, Erna hanyalah staf administrasi di salah satu SMK swasta di Kutoarjo, propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahun 2007 ia mulai buka usaha membuat brownies lalu dititipkan di warung di Kutoarjo. Keputusan itu diambilnya karena tertarik mengikuti jejak kakak iparnya yang sudah lebih dulu memulai usaha brownies di Bandung.  Selain belajar dari kakak ipar, Erna pernah mengikuti kursus membuat kue di Magelang.

Ia memilih “Tulip Stars Bakery” karena merupakan gabungan 2 nama, yaitu nama suaminya ‘Tujo’ dan nama kakak iparnya ‘Alip’. Kata “TULIP” juga boleh dibilang singkatan dari Teliti, Ulet, Lincah, Inovatif dan Penuh tanggung jawab.

Pertama kali produksi hanya memakai 1 karung terigu @25 Kg. Saat itu, brownies buatannya disebarkan 7 sales yang merupakan pegawai lepas.  “Lama-kelamaan mulai kelihatan karakter sales, ada yang bertanggung jawab ada yang tidak. Ada juga yang ngakunya baru laku 20 padahal sudah laku 30. Akhirnya modal habis tidak karuan,” jelasnya.

Tahun 2008 usahanya mengalami penurunan. Beruntung suaminya mendapat pesanan dari teman sekerja, membuat brownies dalam kemasan mika atau paper bag  untuk acara keluarga.  Pesanan itu membuatnya bangkit dan berani meminjam ke bank untuk melanjutkan usaha dan perlahan usaha Tulip Stars Bakery terus berkembang. 

Hingga awal 2019 Tulip Stars Bakery sudah memiliki 4 outlet. Dua milik sendiri dan 2 lagi masih sewa. Untuk mengoperasikan semua gerai toko tersebut ia mempekerjakan 60 karyawan.  Dari usahanya itu pula ia sudah memiliki 4 mobil operasional.  Produknya tidak lagi hanya brownies tapi juga aneka roti, cake, tart, bahkan bakpia.

Wilayah pemasaran Tulip Stars Bakery sudah meliputi Solo, Yogyakarta, dan Kebumen.  Bahkan hampir setiap hari ada pesanan sekitar 1000-1500 bungkus untuk hajatan dari kota Kebumen. “Pesanan untuk hajatan rame, apalagi saat  musim liburan. Omzet yang dihasilkan dari 4 outlet sekarang, jelek-jeleknya Rp 30 juta sehari. Itu di luar pesanan," tambahnya.

Tulip Stars Bakery berkomitmen menjaga kualitas produknya. Terutama dalam hal bahan, ia tidak berani lagi memakai terigu selain produk Bogasari. “Dulu saya pernah coba-coba pakai terigu lain, tapi konsumen langsung komplain. Mereka bilang rasnya beda, tidak seenak sebelumnya. Saya akui, kualitas terigu Bogasari memang stabil,” ungkap wanita yang hanya lulusan SMK ini. 

Untuk memperdalam ilmu, Erna tidak perlu kerepotan. Pasalnya banyak sales dari bahan baku yang dipakai Tulis Stars Bakery jutsu memberikan edukasi cuma-cuma. Bahkan sampai melakukan baking demo di tempat usahanya. “Saya sih pengen sekali belajar di BBC, tapi belum ketemu waktu yang pas,” ucap ibu dari 3 anak ini.

Ia mengaku sedikit kaget karena terpilih lagi menjadi nominator Bogasari SME Award untuk kategori Silver.  Selain 2019, dulu tahun 2014 pernah jadi nominator juga., “Kami tidak melihat dari sisi hadiahnya, tapi dari pengalaman sebagai nominator. Saat 2014 lalu kami malah sempat tukar kaos dengan pak Frangky Welirang," ucap Erna sembari tawa bahagia. (EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel