POSTED: 13 March 2020

 Perlahan tapi pasti, kripik bawang kini semakin digemari. Cemilan yang biasanya menghiasi meja makan di kala Idul Fitri, berhasil disulap menjadi panganan yang memiliki nilai jual tinggi. Ialah Wati Imbarti, wanita asal Jambi yang sukses melakukannya. Awalnya hanya Jambi, Ia terus ekspansi ke beberapa provinsi.

 “Saya mulai usaha ini sekitar tahun 2006. Sebagai ibu rumah tangga, saya itu nampaknya agak kreatif.  Menjelang lebaran, saya suka buat cemilan sendiri untuk disajikan di meja. Ternyata cemilannya digemari tamu, dari sana timbul di benak saya untuk menjualnya,” ucap Wati.

Ia coba-coba membuat kripik bawang dengan 2 kg terigu Segitiga Biru dari Bogasari. Tanpa dibantu suami yang lebih memilih kerja di pabrik. Wanita kelahiran Jambi, 43 tahun lalu itu mulai memproduksi kripik bawang yang dijualnya ke sekolah-sekolah di sekitar rumahnya.

“Saya coba-coba mulai membuat kripik bawang. Saya door to door menawarkannya ke sekolah-sekolah, teman-teman dan tetangga sekitar. Ternyata banyak yang suka, saya jadi semangat memproduksinya lagi. Pelan-pelan saya tambah kapasitas produksinya,” jelasnya.

Respon positif dari para pelanggannya, semakin membuat Wati yakin untuk serius mengembangkan usaha kripik bawang. Tak berselang lama, ia pergi ke Dinas Perindustrian Kota Jambi untuk mendaftarkan usahanya dengan nama “Adila”. Banyak hal baik terjadi setelah ia melakukan kontak dengan dinas tersebut.

 “Ternyata banyak sekali hal yang saya dapat dari dinas itu. Di sana saya diajak mengikuti pameran, bazaar, pelatihan dan kegiatan lainnya. Saya juga diarahkan untuk mulai menyuplai swalayan-swalayan di wilayah Jambi. Sejak itu mulailah usaha saya menanjak dan berkembang cukup pesat,” ucapnya.

Sekitar 3 tahun setelah Wati memulai usaha, ia sudah menyuplai kurang lebih 10 toko swalayan di Provinsi Jambi. Permintaan terus bertambah. Usaha yang tempat produksinya menyatu dengan rumah miliknya itu, sejak tahun 2011 mulai terpisah. 

“Puncaknya itu di tahun 2012, saya sudah mulai menyuplai ke mall-mall. Sekarang Adila Snack sudah memiliki 1 rumah produksi dan 1 outlet. Kapasitas produksinya pun bertambah. Kini Adila Snack bisa menghabiskan sekitar 250 sak atau lebih dari 8 ton terigu Segitiga Biru per bulannya untuk membuat kripik bawang, ciput ubi, ciput keju dan stik udang,” ucap ibu 2 orang anak ini.

Tidak hanya tempat dan kapasitas produksinya saja yang bertambah. Wati kini sudah dibantu 6 orang karyawan produksi dan 4 orang untuk penjualan. Wilayah pemasarannya pun semakin meluas, yang awalnya hanya di Provinsi Jambi, kini produk buatan Adila Snack bisa didapatkan di Alfa Mart di Provinsi Jambi dan Palembang. Indomaret di Provinsi Jambi, Palembang dan Lampung. Serta Carefour se Jabodetabek, Carefour Solo dan Semarang.

“Kita melangkahnya juga harus tahap demi tahap. Saya memulainya dari Jambi, terus ke Palembang. Palembang sudah tertata rapi, baru ke Lampung. Lampung sudah tertata, baru kami bisa beranjak lagi,” jelasnya antusias.

Rencananya, Adila Snack akan ekspansi ke Pekanbaru, Medan, dan beberapa wilayah lainnya. Dan jika permodalannya sudah semakin kuat, Wati berencana untuk memberikan mesin produksi kepada warga sekitar yang ingin bermitra dengannya. Sehingga mimpinya untuk bisa membuat kampung keripik bawang perlahan bisa terwujud.

Kripik bawang produksi Adila Snack dijual dengan harga Rp 10 ribu untuk kemasan kecil, Rp 25 ribu untuk kemasan ½ kg dan Rp 50 ribu untuk kemasan 1 kg. Selain menjual di toko dan retail, Wati juga bekerja sama dengan beberapa reseller online  di berbagai daerah. Meskipun kapasitas produksinya semakin banyak, Wati menjamin mutu dan kualitas produknya tetap terjaga. Berkat perkembangan usahanya ini, Wati terpilih sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Silver. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel