POSTED: 09 July 2019

Setiap orang pastinya memiliki mimpi, tak terkecuali Iwan Abdul Khamid. Pria asal Lampung yang hanya lulusan S-2 (SD dan SMP) ini memiliki banyak mimpi dan alhamdulillah semuanya terwujud. Bermimpi membuka lapangan pekerjaan buat banyak orang, membangun pondok pesantren, menyekolahkan anak sampai di bangku kuliah bahkan menjadi dokter. Semua impiannya terwujud melalui usaha roti yang ditekuninya sejak tahun 2003.

Pelangi Nusantara Food, itulah nama usaha roti pria berusia 51 tahun ini yang terletak di Jalan Nusantara, Metro, Lampung. Sebelum buka usaha roti, ia bekerja di pabrik roti bernama Nasional Bakery di bagian produksi. Tahun 2000 pabrik roti tersebut bangkrut dan berganti menjadi usaha makanan ringan. Iwan kembali bekerja tapi sebagai tenaga marketing.

Tahun 2003, berbekal pengalaman di bagian produksi dan marketing, akhirnya Iwan memutuskan buka usaha roti sendiri. “Alasan saya memilih usaha roti, karena waktu itu saya bisanya hanya membuat roti dan memasarkannya, saya juga melihat kalau usaha roti tidak ada matinya, semua orang bisa beli,” ungkap Iwan.

Awal buka usaha tahun 2003, namanya masih “Roti Purnama”. Dengan modal pinjaman dari bank sekitar Rp 20 juta, ia memulai usaha roti di bangunan yang hanya berupa bilik bambu. Dari awal usaha, ia sudah berhasil memiliki 15 karyawan dan 3 diantaranya adalah eks karyawan salah satu pabrik roti di Serang.

“Karyawan lainnya saya ambil dari lingkungan sekitar. Kami minta tolong pada 3 orang itu untuk mengajari karyawan lainnya dari 0, karena disini belum ada pabrik roti,” papar Iwan.

Usaha Roti Purnama cukup mudah berkembang karena mengandalkan pangsa pasarnya Nasional Bakery tempatnya bekerja dulu.  Bahkan tahun 2008, jumlah karyawan Roti Purnama hampir 100 orang dengan kapasitas produksi 60 zak terigu Cakra Kembar per hari.

Tapi namanya usaha pasti ada pasang surut. “Saat itu manajemen pabrik saya lepas, karena saya berangkat haji. Pabrik saya tinggalkan selama 4 bulan. Ternyata teman-teman  mengelolanya kurang bagus, penjualan merosot. Saat itu kami sepakat untuk mengakhiri usaha Roti  Purnama ini, dan saya dipaksa harus membeli aset yang ada, yang konon katanya ada beberapa yang menjadi milik teman-temannya,”  kenang pria yang hanya lulusan SMP ini.

Awal tahun 2009, ia mengambil alih kembali usaha tersebut dengan membeli semua aset senilai Rp 1,6 miliar.  Sejak saat itu, Iwan bersama 20 karyawannya merintis kembali usaha roti barunya dengan nama “Pelangi Nusantara Food”.  Nama “Pelangi” dipilih Iwan karena pelangi merupakan sesuatu yang selalu diharapkan, dan masyarakat tidak pernah bosan ketika melihatnya. Sedangkan kata “Nusantara” dipilih karena  nusantara merupakan nama jalan lokasi usaha.

Karena meneruskan usaha Roti Purnama, Pelangi Nusantara Food memulai produksi dengan menggunakan 20 zak terigu Cakra Kembar. Terigu Cakra kembar di pilih Iwan karena kualitasnya stabil dan hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Roti buatannya terbagi ke dalam 2 kelas, yakni kelas harga Rp 500 dan kelas harga Rp 1.000 yang dipasarkan ke seluruh wilayah Lampung dan sebagian Palembang. Awalnya hanya ada 3 varian rasa yakni, kacang, coklat dan kelapa, tapi kini sudah 10 varian rasa.

Alhasil, melalui usaha roti, Iwan berhasil mewujudkan mimpinya membangun pesantren untuk pengajian dan kegiataan keagamaan dengan kapasitas tampung 130 anak didik di tahun 2014. Mimpi membuka lapangan pekerjaan juga berhasil dan saat ini Pelangi Nusantara Food mempekerjakan 150 warga sekitar pabrik.

Ayah 4 anak ini juga berhasil mengkuliahkan anaknya hingga meraih gelar dokter.   “Alhamdulillah semua harapan saya sudah terwujud, dan semoga kedepannya Pelangi Nusantara Food dapat terus bermanfaat untuk masyarakat.,” harapnya. 

Sejak tahun 2006, ia juga membuka kerja sama dengan beberapa sekolah SMK dan pesantren untuk mengadakan pelatihan wirausaha membuat roti di pabriknya. Melalui program ini, ia berharap masyarakat Lampung bisa mandiri dan membangun desanya sendiri tanpa bergantung pada usaha orang lain.

“Setiap tahun selalu beberapa  SMK dan pesantren mengirimkan siswanya untuk kami didik, latihan  membuat roti sampai mereka bisa. Kami tanamkan pemikiran-pemikiran yang merangsang mereka untuk jadi pengusaha dan membuka lapangan kerja, minimal untuk diri sendiri dan kalau bisa untuk yang lain,” ungkapnya.  (EGI)

 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel