POSTED: 22 Februari 2018
Setiap manusia terlahir dan tumbuh dengan beragam kisah dan beragam karakter. Dan dalam lahir dan tumbuh kembangnya, setiap insan manusia pun punya kekurangan dan kelebihan. Takkan pernah kita bisa menjawab dengan logika kenapa kekurangan dan kelebihan itu bisa berbeda dan menyisakan tanda Tanya. Tapi kita bisa menyatukan kekurangan dan kelebihan menjadi suatu anugerah bagi diri sendiri dan orang lain. 
 
“Seperti yang diperlihatkan oleh saudara-saudara kita dari Yayasan Elsafan. Mereka memiliki keterabatasan dalam penglihatan dengan beragam kisah. Ada yang sejak lahir, ada yang dalam proses tumbuh kembang mengalami gangguan medis, dan bermacam penyebab. Tapi di sini kita menyaksikan, bagaimana saudara kita yang di Elsafan tetap bisa berbuat lebih di tengah kekurangan yang mereka miliki,” ucap Franciscus Welirang, Direktur Indofood dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru 2018 Keluarga Kristen Katolik Bogasari pada Januari lalu. 
 
Adalah Ritson Manyonyo, yang mengalami kebutaan di saat memasuki usia dewasa. Namun hal itu tidak mematahkan semangat hidupnya. Ia tidak hanya berhasil menyelesaikan kuliahnya, tapi juga berhasil mendirikan Yayasan Elsafan yang dikhususkan untuk anak tunanetra Indonesia pada 7 Februari 2006. Bersama 10 guru, 8 pengasuh, dan 4 orang tenaga admininstrasi, mereka menjadi “mata” bagi puluhan anak-anak dan remaja yang mengalami kebutaan.
 
Hidup di rumah Elsafan, mereka tidak dimanjakan keterbatasan penglihatan. Beragam kegiatan mereka ikuti di yayasan yang berlokasi di Jalan Betung Raya nomor 49 RT 013 RW 05, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Mulai dari teater, musik dan olah vokal, belajar komputer dan masih banyak kegiatan lainnya. “Mari kita belajar dari semangat hidup saudara-saudara kita yang di Elsafan,” ucap Franky Welirang di hadapan karyawan dan tamu undangan Natal Bogasari.
Semangat itu pula yang mereka tunjukkan  saat mengikuti kelas pelatihan bersama Bogasari Baking Center (BBC). Baik pelatihan yang berlangsung di yayasan maupun saat kelas pelatihan di BBC Tanjung Priok, pabrik Bogasari. Saat di Elsafan, 19 anak tunanetra dan guru pendamping membuat Chesa Pancake dan Bolu Kukus di Yayasan Elsafan. Lalu pelatihan membuat 8 macam aneka makanan berbasis terigu yaitu roti manis, kue sus, risol, dan lain-lain di BBC Tanjung Priok.
 
Ini semua adalah bagian dari bakti sosial Bogasari dalam Perayaan Natal dan Tahun Baru. Selain berkesempatan mengikuti pelatihan, keluarga Kristen Katolik Bogasari juga menyumbangkan sejumlah peralatan seperti proofer, black oven ukuran 90 cm, mixer kapasitas  20 liter, Loyang, mesin mie, dan masih banyak lagi. Termasuk dana tunai sebagai modal awal usaha.
 
“Keluarga Elsafan senang dan bersyukur berkesempatan untuk berlatih di Bogasari. Semoga bekal pelatihan, modal peralatan, dan modal dana membuahkan berkat usaha bagi keluarga besar Elsafan dan orang lain. Terima kasih kepada keluarga besar Bogasari. Semoga jaya dan sukses sejahtrera terus,” ucap Ritson Manyonyo, Ketua Yayayasan Elsafan kelahiran Poso, 5 Maret 1975 lalu. (RAP)
0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan