POSTED: 29 Maret 2018
Generasi pertama merintis usaha. Generasi kedua mempertahankan usaha. Inilah  tugas yang sedang dijalankan Gunawan Suryana, pria kelahiran Cianjur 61 tahun yang lalu. Di usia yang sudah memasuki masa tua, Gunawan tetap gigih meneruskan usaha warisan ayahnya.
 
Cake Hong Kong Srikandi. Itulah merek usaha Gunawan yang berpusat di kawasan Bogor. Sebelum dilanjutkan Gunawan dan istrinya, nama asli merek usaha tersebut adalah Bolu Kering Srikandi, yang dirintis ayahnya tahun 1974. Namun memasuki tahun 1990, Gunawanlah yang melanjutkannya karena sang ayah sudah mulai kelelahan.
 
Sebelum meneruskan usaha orangtua, anggota Bogasari Mitra Card ini bekerja di salah satu perusahaan kamera bermerek asal Jepang. Bahkan Gunawan memegang jabatan setara manajer di perusahaan tersebut. Ketika usia ayahnya semakin menua, Gunawan pun memutuskan untuk berhenti menjadi karyawan dan lebih memilih untuk menjadi pengusaha.
 
“Saat itu saya melihat prospek bisnis kue bolu sangat bagus di Bogor. Perputaran uang di usaha bolu lebih cepat ketimbang bekerja di perusahaan orang lain,” kenang Gunawan.
 
Usaha Srikandi yang berlamat di Jalan RE Soemanta Diredja nomor 9, Pamayonan, Bogor Selatan pun mulai berkembang. Dan di kala itu sempat menjadi primaodana di Bogor dan sekitarnya. Gunawan bahkan sempat memiliki karyawan sampai 40 orang. Di tahun 2000-an, Gunawan mulai melakukan inovasi produk dengan menciptakan variasi baru. Srikandi tidak lagi hanya menghasilkan bolu, tapi blackforest,  kue tart, rainbow cake dan lain-lain. Selain inovasi produk, Gunawan pun ekspansi pasar. Tidak lagi hanya di Bogor, tapi sampai Cianjur, Sukabumi, dan Ciawi.  Sejak tahun 2000 itulah nama Bolu Kering Srikandi berganti menjadi Cake Hong Kong Special Srikandi.
 
Dalam mempertahankan maupun mengembangkan bisnis Cake Hong Kong Special Srikandi, Gunawan tidak membuka cabang. Ia hanya punya satu outlet yang terletak di depan rumahnya yang sekaligus menjadi pabrik produksinya. Memang tawaran dari kota-kota sekitar Bogor untuk membuka outlet cukup menarik minatnya saat itu. Tapi ia berpikir ulang karena melihat kegagalan dari sejumlah usaha roti yang coba membuka cabang di kota lain malah gagal.
 
Bersiasat
Untuk menjaga kualitas produk, Gunawan tidak berani memakai terigu lain kecuali produksi Bogasari mereka Kunci Biru. Dalam seminggu, Cake Srikandi memakai 15 sak terigu Kunci Biru. Ia mengakui pernah memakai tepung terigu di luar Bogasari, tapi hasilnya beda dan kualitasnya cenderung menurun. Bahkan sampai pelanggannya mengeluh.
Memasuki tahun 2015, persaingan cake dan bolu kering mulai kencang. Gunawan tidak membantah kalau usahanya pun mengalami penurunan omzet. Jumlah karyawannya pun dipangkas menjadi 20.  “Agen-agen saya yang berada di Pasar Anyar Bogor banyak yang tutup usahanya,” ujar ayah dari dua putri ini.
 
Tapi mitra Bogasari ini tidak mau menyerah. Ia terus melakukan berbagai siasat. “Yang terlintas di benak saya adalah saya tidak boleh menutup usaha dari orangtua saya.  Daripada menurunkan kualitas produk dengan menjual barang lebih murah, lebih baik saya melakukan penghematan di sektor lain. Misalnya di sarana transportasi,” ungkapnya.
Cara lain adalah terus mencari market baru bagi panganan bolu di daerah Bogor. Ia yakin, dalam menjalankan usaha yang terpenting adalah ketekunan dan kemauan serta tidak pantang menyerah. Belajar terus dari berbagai pengalaman. Lebih penting lagi tidak lupa kepada Sang Pencipta.
 
“Masa-masa sulit saya dengan keluarga, jatuh bangun usaha saya, semua dilandasi keyakinan kuat kehadirian Allah. Dasar inilah yang saya terapkan dalam menjalani setiap peristiwa dalam hidup saya,” ucap Gunawan. (DIK/RAP)
0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.