POSTED: 20 Desember 2017

 Hal ini disampaikan Franciscus Welirang, Ketua Umum APTINDO dalam Festival Panen Raya Gandum UKSW, di Desa Wates, Salatiga. Panen yang ke-17 ini diawali dengan pemberian bantuan benih dari Bogasari bernama benih Gandum 2000 Bogasari.  “Dari mulai panen perdana tahun 2000 sampai tahun 2003, hasil panen digunakan untuk kebutuhan riset. Lalu sejak tahun 2004 hasil panen semakin membaik dan tidak lagi hanya untuk kebutuhan riset, tapi juga untuk kegiatan usaha. Jadi benih hasil panen sudah bisa diperjualbelikan. Bahkan sejak tahun 2005. UKSW sudah mampu membina kemitraan dengan petani lokal dengan memberikan bantuan benih. Antara lain kemitraan petani di Kopeng, Banjarnegara, dan Boyolali,” jelas Franciscus Welirang yang juga Direktur Indofood.

Franciscus Welirang atau yang akrab disapa Franky Welirang ini, sangat mengapresiasi UKSW karena satu-satunya perguruan tinggi yang konsisten dengan riset tanaman gandum sejak belasan tahun yang lalu sampai sekarang ini. UKSW menanam gandum di 2,8 ha kebun percobaan  Salaran UKSW, Desa Wates. Sejak tahun 2005, UKSW sudah melakukan mekanisasi mulai dari pengolahan tanah, penanaman dan panen gandum.

“Kami bangga dengan USKW yang sangat mandiri. Dan sudah sepatutnya penanaman dan penelitian tanaman alternatif gandum ini dikembangkan oleh perguruan tinggi lainnya. Tentu memang butuh dukungan dari pemerintah baik dalam hal kebijakan maupun anggaran. Buktinya, UKSW yang awalnya dibantu dan hanya dalam waktu 3 tahun akhirnya bisa mandiri,” ucap Franky.

Franky Welirang memaparkan, tahun 1998, melalui program beasiswa penelitian “Bogasari Nugraha”  PT Indofood Sukses Makmur Tbk Divisi Bogasari menyelenggarakan sayembara penelitian berbasis gandum dan tepung terigu. Tim pakar Bogasari Nugraha pun dikirim ke Pusat Gandum India menjajagi kerja sama. Melalui MoU antara Departemen Pertanian RI dan Departemen Pertanian India, Bogasari boleh merilis benih gandum dari India ke Indonesia dengan nama DWR162. 

Tahun 1999, benih yang didatangkan dari India diberikan kepada UKSW Salatiga, IPB, Unibraw, UGM, Unsoed, dan Universitas Slamet Riyadi.  Uji tanam oleh para peneliti di kampus-kampus tersebut menuai hasil dalam beberapa kali panen di tahun 2000 – 2005. “Program upaya penanaman gandum itu dinamakan Gandum 2000 Bogasari, sesuai tahun panen perdananya. Dan, hingga tahun 2016 ini yang masih konsisten dalam pengembangan tanaman dan rutin melakukan panen setiap tahun gandum hanyalah UKSW Salatiga,” tegas Franky yang juga Kepala Divisi Bogasari ini.

Ia mengatakan, gandum yang telah berhasil ditanam di Indonesia memang bukan dimaksudkan sebagai pasokan bahan baku industri, tetapi sebagai sebuah upaya menjadikannya sebagai alternatif pangan masyarakat. “Lupakan pemanfaatannya untuk industri. Gandum yang dipanen di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam proyek gandum Bogasari telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Mereka bisa menumbuk dan menanak bubur gandum, karena kulit dan tepungnya bisa dimakan sekaligus. Pabrik-pabrik kecap juga mulai ada yang memanfaatkan gandum lokal ini,” tambah Franky. (RAP)

 

Saksikan tayangan "Semangat Gandum Tropis Indonesia" link : https://youtu.be/RPNCxzIxpT0

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.