POSTED: 09 Oktober 2018

Dua puluh tahun menjalani usaha bukanlah perjalanan singkat. Tapi dalam dunia bisnis, persaingan tak bisa dihindari. Seperti yang dialami Titik Winarni yang sudah 20 tahun menekuni usaha kue dan roti, akhirnya tergilas oleh persaingan. Tapi wanita yang sudah berusia 55 tahun ini, tak kenal kata menyerah. Ia kembali membuka usaha makanan berbasis terigu  yakni bakpia.

Ia sadar, produk bakpia bukan lagi menu baru bagi warga Surabaya. Karenanya ia berinovasi dengan membuat produk bakpia ulir. “Sebenarnya sudah cukup lama saya mendapat ilmu membuat bakpia ulir dari Bogasari, sekitar tahun 2008. Berhubung pesanan kue dan roti menurun, saya pun coba buat bakpia kekinian dengan menggunakan ulir, dan 3 bulan terakhir sambutan masyarakat khususnya yang ada di Surabaya cukup baik,” ungkap perempuan kelahiran Sidoarjo, 7 Oktober 1963 ini.

Ia berkisah, sebelum membuat bakpia ulir pada Mei 2018 lalu, sudah puluhan tahun memiliki usaha kue dan roti dengan nama OCA Kue, yang diambil dari nama kedua anaknya, Oki dan Ica. Sebelumnya, Titik bekerja sebagai seorang retailer obat di Kalbe Farma. Namun begitu lahir anak pertama, ia memutuskan berhenti bekerja dan mengasuh anak di rumah.

Namun hanya setahun berselang, Titik mulai gelisah dan jenuh. Ia memutuskan untuk membuat usaha kue dan roti. Cukup berhasil dan sempat punya karyawan. Tapi setelah 20 tahun akhirnya ia menghentikan usahanya dan beralih ke bakpia ulir.

Ilmu membuat bakpia ulir diperolehnya saat pelatihan di Bogasari Baking Center (BBC) Surabaya. Ia pun sadar bakpia sudah banyak ditemukan di Surabaya. Makanya ia modifikasi dengan bentuk dan pilihan rasa yang beragam sehingga terlihat kekinian. 

Menurut Titik, bakpia olahannya memiliki kelebihan dengan tekstur yang garing dan renyah serta rasanya yang beraneka ragam, cocok dengan kelompok milenial. Selain itu, karena bakpia buatan Titik bisa tahan hingga 1,5 bulan akhirnya mendapat pesanan dari konsumen luar kota.

Untuk produksi, Titik memakai terigu Bogasari merek Segitiga Biru dan Kunci Biru. Meski baru berusia 3 bulan lebih, namun usaha Titik sudah menghabiskan 4 sak terigu atau 100 kilogram dalam sehari untuk memproduksi 300 hingga 500 biji bakpia ulir. Memang saat ini masih saya sendiri yang membuat bakpia dan peralatannya pun masih sederhana. Tapi saya sudah punya rencana menambah karyawan untuk membantu produksi,” katanya.

Saat ini Titik sudah memiliki satu outlet di Jalan Raya Margorejo nomor 36B, Surabaya dan beroperasi dari Senin sampai Sabtu setiap pukul 07.00 – 17.00 WIB. Meski baru berjalan beberapa bulan, omzet bakpia ulir saat ini sudah 2 kali lipat dari omzet terakhir usaha kue dan rotinya.

Bakpia ulir tersedia dalam 3 kemasan, isi 5 biji, 10, dan 20. Varian rasa yang tersedia ada 5 jenis, yaitu cokelat, keju, green tea, blueberry, dan strawberry. Untuk menarik perhatian konsumennya, Titik pun membuat kemasan yang didesain sangat milenial. Berkat karya dari suaminya, Purwo Adi Wacono, kemasan bakpia ulir terlihat sangat kekinian atau “kemasan zaman now”.

Saat ini Titik sedang fokus untuk membenahi branding, inovasi varian dan kualitas rasa. Lewat berbagai pameran yang diikuti, tak jarang mendapat tawaran untuk reseller. “Meski sangat efektif menambahkan income, tetapi saya tetap ingin fokus mengembangkan branding bakpia ulir dahulu agar punya nama di wilayah Surabaya dan sekitarnya,” harap akademi teknik tekstil ini.

Karena target konsumennya kaum milenial, Titik pun memakai media sosial untuk pemasaran yakni instagram@bakpiaulir. Lewat instagram, konsumennya merambah hingga ke Medan, Jakarta, Bandung, Solo, bahkan Papua. (DIK/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan