POSTED: 11 Desember 2019

Glodok, Jakarta Barat, dari dulu sampai sekarang dikenal sebagai salah satu kawasan bisnis terkenal di ibukota. Bahkan di tahun 70-an, kawasan Glodok sudah dikenal menjadi kawasan kuliner, diantaranya aneka mie. Di sinilah, Marionto, pemilik usaha Mie Ayam Mario  belajar membuat mie.

“Saya belajar membuat mie pada “singkek” (sebutan untuk warga pendatang asli dari Negeri Cina) di Pasar Petak 9, Glodok, sekitar tahun 1978.  Dulu istilahnya pull mie ayam, terpusat di situ. Kalau nggak salah ingat ada 4 titik pembuatan mie di sana,” kenang pria kelahiran 18 Maret 1962 ini. 

Ia merantau ke Jakarta bersama teman-teman sekampungnya dari Wonogiri. Alasannya, konon di kala itu proses pemotongan mie masih menggunakan pisau, sementara permintaan banyak sehingga butuh banyak tenaga kerja. Tepung terigu yang digunakan waktu itu merek Cakra Kembar dan Segitiga Biru.

Kurang lebih 10 tahun Marionto menjadi tenaga kerja di pedagang bakmie di Glodok. Sekitar tahun 1989 terjadi penggusuran dan para penjaja serta para pekerja menyebar ke berbagai daerah mencari nafkah baru.  Termasuk Marionto yang memutuskan untuk mengadu nasib di Purworejo atas saran para sesepuh pedagang mie ayam asal kota kelahirannya, Wonogiri.

Pertama ia membuat gerobak dorong yang disewakan seharga Rp 50 – 70 per hari. Karena masyarakat Purworejo saat itu belum mengenal mie, pria yang akrab disapa Mario ini pun mulai cari akal. Ia memakai merek usahanya “Mie Ayam Jakarta” dengan harapan masyarakat bangga dan tertarik karena makanan spesial dari ibukota negara. 

Ia menawarkan mie pada berbagai kalangan masyarakat, mulai dari tukang becak hingga para tamu hotel.  “Mengenalkan mie waktu itu susahnya setengah mati. Saya tawarkan pada tukang becak makan mie gratis, mereka tidak mau. Katanya ini cacing. Kita coba tawarkan ke hotel-hotel yang notabene banyak tamu dari luar kota, termasuk Jakarta,” ungkap Mario mengenang awal mula usahanya di Purworejo 30 tahun lalu. 

Mario tak mau menyerah. Apalagi mendapat dukungan dari sesama pedagang mie ayam asal Wonogiri, termasuk saran dari Franciscus Welirang, pimpinan Bogasari. Mie Ayam Mario

menjalankan usahanya di Jalan Kolonel Sugiyono, Purworejo (depan Hotel Intan). Produksi dan gerai penjualan dilakukan sekaligus di sana. 

Usaha Mie Ayam Mario tergolong sukses. Saat ini setiap harinya menghabiskan 12 sak atau 9 ton terigu Cakra Kembar per bulan dengan mengerahkan 5 karyawan.  Mario pun mengajak para UKM yang bergerak di bidang mie untuk menggunakan tips-tips yang dulu pernah diberikan Franky Welirang, panggilan akrab dari Kepala Divisi Bogasari itu. Mulai dari bahan baku mie, cara memasak, dan bagaimana melayani konsumen.

“Yang pertama bahan baku mie itu tidak lepas dari tepung terigu Cakra Kembar. Kedua

higienis, yang ketiga berikan pelayanan pada konsumen yang benar. Makanya kita mengajak teman-teman untuk menerapkannya pada usaha,” saran Mario.

Ia bersyukur saat ini sudah banyak penjual mie di Purworejo. Ia juga berterima kasih kepada para generasi muda yang mau meneruskan usaha mie ini. “Saya sudah tua, saya pesan kepada temen-temen generasi muda, jangan remehkan usaha mie ayam. Dan jika teman-teman mau usaha mie, bisa pertimbangkan saran dari saya dan pak Franky. Saya yakin, generasi yang akan datang akan lebih baik dari saya sekarang,”  harapnya.  (EGI/REM)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan