POSTED: 17 April 2020

Berbincang dengan ibu muda yang baru berusia 30-an tahun ini sangatlah menarik. Apalagi kalau topik pembicaraannya seputar usaha makanan, dia tampak begitu energik dan antusias memaparkannya. Apalagi seputar usaha makanan yang dilakoninya sejak tahun 2008. Padahal saat itu usianya masih sangat muda, tepatnya 26 tahun.

Maya Dona, itulah nama pemilik usaha My Bakery yang berlokasi di Kota Palembang. Hanya dalam waktu 4 tahun, sejak 2008, Maya berhasil mengembangkan usahanya di Kota “Pempek" Palembang hingga memiliki omzet mencapai Rp 200 juta lebih dalam sebulan di masa itu.

Meski begitu Maya tak lekas berpuas diri. Ia terus melakukan inovasi. Saat ini rata-rata pemakaian terigu Bogasari sekitar 1 ton per bulan. Mulai dari Cakra Kembar Emas (CKE) kemasan 5 kg, terigu Segitiga Biru dan Kunci Biru.  Untuk menjalankan usahanya, Maya mengerahkan 23 tenaga kerja 23 orang.

“Semuanya itu butuh ketekunan dan strategi dalam berusaha. Ada saatnya kita memakai strategi untuk membangun merek, ada saatnya juga untuk meraup omzet. Contohnya kemarin dalam Asian Games 2018 yang mana Palembang jadi salah satu tuan rumah,  My Bakery bukan mau bangun merek tapi kejar omzet. Alhamdulillah bisa dapat omzet sampai ratusan juta rupiah,” kenang Maya seraya mengatakan pesanan saat itu adalah snack box isi roti manis dan varian cake mini. Dan yang pasti semua perizinan usaha sudah dimiliki My Bakery termasuk sertifikat halal dari MUI. 

Wanita kelahiran Palembang 6 September 1982 ini sudah gemar dengan dunia memasak sejak masih duduk di bangku SD. Sesekali ia membantu ibunya yang membuka usaha katering. Ketika duduk di bangku SMA hobinya kian diseriusi. Ia tak lagi sebatas membuat, tapi juga memasarkan ke teman-temannya, saudara dan kerabat. Memasuki bangku kuliah di jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Sriwijaya, Maya pun semakin meyakini hobinya di bidang tata boga.

Saat duduk di semester 6, ia sengaja mengikuti kursus pelatihan di Bogasari Baking Center (BBC) Palembang.  Beberapa kali ia juga mengikuti lomba kewirausahaan dan membuat beberapa business plan.  “Waktu itu saya sudah punya impian untuk membuka usaha roti,” ungkap Maya. 

Lantaran suka membuat roti, ia selalu menjadikan business plan roti sebagai andalannya di setiap lomba. "Saya merasa memiliki chemistry dengan roti ketimbang produk lainnya," tambahnya.

Lulus kuliah, Maya pun menjajal berbagai pekerjaan di perusahaan yang bergerak di bidang makanan. Dan yang terakhir sebelum buka usaha, ia bekerja di BBC. Ibarat peribahasa; Sambil Menyelam minum air. Dua tahun kerja di BBC, Maya mendapat  banyak ilmu, mulai dari pengolahan sampai cara menangani customer.  

 

Pilih Berusaha

Selepas kerja dari BBC, Maya pun memutuskan untuk membuka usaha roti. Tepatnya Mei 2008. "Kebetulan saat itu saya punya anak bayi berusia lima bulan, sehingga tak memungkinkan untuk ditinggal bekerja," ungkap Maya.

Pilihan usaha roti bukan semata karena kesukaannya. Tapi karena merasa di kota kelahirannya belum ada produsen roti yang membidik konsumen kelas menengah. Kebanyakan, hanya menyasar kalangan bawah dan atas.

Berbekal modal awal Rp 20 juta, ia nekat mendirikan usaha pembuatan roti di bawah bendera usaha bernama CV Adya Pratama. Meski ia sadar bahwa untuk membuka pabrik roti modern minimal membutuhkan modal Rp 300 juta. "Sementara modal saya tak sampai sepersepuluhnya, tapi saya bertekad membesarkan bisnis ini," ujarnya.

Perlahan usahanya menapaki sukses. Produksi My Bakery yang dulunya dilakukan di rumah kontrakan 4x5 meter, kini memiliki rumah produksi di Jalan Tanjung Rawo Bukit Lama, Palembang sekaligus gerai utama dengan luas 400 meter persegi. My Bakery juga memiliki satu gerai lagi di Jalan RA Abusamah, Suka Bangun, Kecamatan Sukarami, Palembang.

Dalam sehari, My Bakery memproduksi sebanyak 1.000 roti manis aneka rasa, 500 roti kombinasi, 250 bungkus roti tawar, serta puluhan snack dan kue tradisional untuk keperluan meeting dan acara lainnya. Yang paling laris adalah roti, pancake durian, snack box, jajan pasar, cake dan kue jadul.

Sukses Maya tentu tidak datang begitu saja. Butuh kemauan belajar dan kerja keras serta kreatif. Bahkan ia tetap harus bisa membagi waktu untuk mengurus suaminya, Ardiansyah dan tiga anak mereka Nafeeza Rachmadya, Maisya Ramadhani dan Khalief Azharadya. Sementara untuk mengontrol kerja 23 karyawannya ia membuat 4 grup whatsapp (WA) yakni Kantor, Tim Produksi, Kasir Penjualan, dan Admin Cabang. 

Ada banyak terobosan yang dilakukan wanita berdarah campuran Palembang dan Ambon ini. Termasuk dalam pemasaran yang sejak tahun 2016 sudah berkonsep digital marketing yang kemudian meningkatkan penjualan sampai 3 kali lipat.  Kerja sama dengan aplikasi layan antar seperti GoJek dan Grab, serta lewat media social Instagram dan Facebook dengan akun Mybakery_Palembang.

Wajar kemudian My Bakery berhasil meraih berbagai penghargaan baik dari pemerintah maupun swasta. Diantaranya Wirausaha Muda Mandiri 2011, Wirausaha Bank Indonesia 2017, dan lain-lain. Dan yang terbaru penghargaan sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Silver.

“Saya terbantu sekali dengan adanya produk Bogasari yang menunjang kontinuitas bisnis kami sejak awal berdiri hingga saat ini, terutama dengan adanya produk premium. Kami jadi lebih bisa berkreasi menghasilkan produk-produk yeng lebih baik lagi kualitasnya,” ucap Maya.

Ia sudah bertekad akan melebarkan sayap usaha  dengan konsep waralaba (franchise). Dalam hitungannya, biaya investasi waralaba My Bakery lebih dari Rp 300 juta. "Banyak kota di Sumatera masih minim pemain roti, khususnya di kelas menengah," katanya.

My Bakery diwaralabakan dengan konsep modern bakery, yakni produksi dan penjualan di bawah satu atap. Harapannya, gerai rotinya akan mirip dengan sejumlah gerai roti ternama yang berkembang di Pulau Jawa. "Tapi, saya tetap akan bermain di kelas menengah dan berusaha melestarikan kue khas Indonesia sebagai perwujudan pelestarian budaya Indonesia," harapnya. (EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan