POSTED: 19 September 2019

Mewarisi usaha orangtua bagi sebagian orang mungkin kurang menarik. Tapi tidak bagi Faniza Rahman, pria kelahiran Pontianak 3 Juli, 25 tahun yang silam. Bahkan meski ia menekuni pendidian di perguruan tinggi jurusan arsitektur, tak menghalanginya untuk terus mengembangkan kue bingke yang dirintis orangtuanya sejak tahun 1994 lalu.

“Sebenarnya kue bingke  itu sudah ada sejak dulu dan rasanya hanya satu. Orangtua kami mengembangkan rasanya seperti kentang, ubi, susu dan masih ada rasa lainnya, lalu menjualnya secara umum di tahun 1994,” ungkap Faniza.

Nama Al-Fajar dipilih kedua orangtuanya karena mereka ingin memberi makan keluarga dengan rezeki yang paling berkah. Setelah sang ayah berpulang tahun 2014 lalu, Faniza bersama 4 saudaranya mulai meneruskan usaha bingke Al-Fajar yang merupakan kuliner khas Kalimantan.

Masing-masing membuka 1 outlet penjualan di wilayah Pontianak, sehingga totalnya ada 5 gerai. Meski demikian, mereka tetap bertahan dengan 1 dapur produksi. Tujuannya untuk menjaga konsistensi kualitas bahan dan rasa kue bingke itu sendiri.

“Meskipun masyarakat membeli di outlet Al-Fajar yang berbeda, mereka akan mendapatkan kualitas produk yang sama. Karena kami menggunakan 1 dapur produksi, hanya manajemen penjualan atau outletnya saja yang berbeda,” ucap anak ke-4 dari 5 bersaudara ini.

Dapur produksi bingke Al-Fajar buka mulai pukul 07.00 – 13.00 WITA. Sedangkan gerai penjualan buka  dari jam 07.00 – 22.00 WITA. Total karyawan saat ini mencapai 25 orang. Dalam sehari, dapur bingke Al-Fajar menghabiskan 2-3 sak terigu Segitiga Biru produksi Bogasari. Mereka memilih tepung produksi Bogasari karena bingke yang dihasilkan kualitasnya seusai dengan yang diharapkannya.

“Warna bingkenya menarik dan teksturnya pas ketika menggunakan tepung Bogasari. Hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan.  Selama kualitasnya stabil dan masih sesuai dengan kualitas yang kita harapkan, kami tidak akan meggantinya dengan terigu lain,” tegas pria yang juga memiliki usaha kontraktor itu.

Normalnya, Al-Fajar biasa memproduksi 800-1000 kotak kue bingke. Harga jual setiap varian berbeda, mulai dari Rp 18 ribu sampai Rp 25 ribu. Oleh-oleh khas Kalimantan ini hanya tahan 1 hari kalau dalam suhu ruangan. Namun kalau disimpan dalam lemari es bisa sampai 3 hari.

Sampai pertengahan tahun 2019, bingke Al-Fajar sudah berinovasi dengan lebih dari 20 varian rasa. Ada rasa kentang, labu, ubi, durian, nangka, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling diminati dan dicari adalah  rasa labu, ubi, dan bingke berendam.

“Pengembangan resepnya itu dilakukan secara otodidak, tanpa mengikuti kursus dan sejenisnya. Kami berusaha menciptakan peluang baru, yang paling banyak diburu itu bingke berendam. Itu khasnya dari dulu sejak pertama buka sampai sekarang,” jelas pria berusia 25 tahun itu.

Lain cerita jika memasuki bulan Ramadhan, produksinya bertambah menjadi 3-5 kali lipat. Al-Fajar mampu menghabiskan 5-6 sak terigu Segitiga Biru per hari  atau 4,5 ton sebulan dengan jumlah produk yang dihasilkan rata-rata 4 ribu kotak per hari. Jam operasional produksi saat Ramadhan pun bergeser menjadi jam 5 subuh sampai jam 2 siang, sedangkan gerainya buka dari pukul 2 siang sampai 12 malam

Selain dijual di 5 gerai, Al-Fajar juga sudah memasarkan produknya melalui media sosial Instagram dengan nama akun @bingke_alfajar. Disana ada informasi lengkap, mulai dari alamat cabang, jam operasional, info produk, dan lain sebagainya. Beberapa influencer di Kalimantan juga sudah mulai mempromosikan bingke Al-Fajar. 

“Kami juga sudah bekerja sama dengan Go Food dan Grab Food. Kami belum menyediakan jasa layanan antar / kirim untuk wilayah luar Kalimantan. Karena tekstur bingke yang lembut, dapat dipastikan 85% akan hancur kalau dikirim melalui jasa pengiriman. Kalau pun ada bingke Al-Fajar di luar Kalimantan, itu karena ada orang yang beli di sini lalu dibawa ke sana,” pungkasnya. (EGI/RAP/REM)

 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan