POSTED: 12 Juni 2020

Menekuni pekerjaan dengan harus meninggalkan keluarga bukanlah perkara mudah. Apalagi pekerjaan yang ditekuni lumaya jauh dari daratan. Seperti yang dirasakan Jamani Sukiban Kasman yang selama 16 tahun kerja sebagai pelaut. Ia sangat jarang ketemu keluarga karena lebih banyak berlayar.

Kerinduanya sebagai seorang suami dan ayah saat melaut sering menghantuinya. Ibarat peribahasa pucuk di cinta, ulam pun tiba. Jamani yang tengah berpikir keras, ditawari kakak dan adiknya menjadi pengusaha roti seperti mereka.

Hingga awal tahun 2020, usaha roti dengan merek “Cahaya Nikmah” miliknya di Samarinda sudah mampu menghabiskan minimal 240 sak atau 6 ton terigu Cakra Kembar per bulannya. Karyawan usaha roti milik pria yang hanya lulusan SMP ini sudah mencapai 20 orang.

Ia juga memiliki 3 mobil dan 3 unit motor untuk memasarkan produknya kebeberapa wilayah di Kalimantan Timur sekitar seperti Kabupaten Barong tongkok, Kemela, Wahau, Sangatta, Bontang, Balikpapan, dan Tenggarong.

Sampai saat ini, ada 6 varian roti yang diproduksi. Di antaranya ada roti tawar, roti gulung, roti pisang cokelat, pisang strawberry, pisang nanas, dan pisang srikaya. Semuanya dijual dengan harga Rp 5 ribu, kecuali roti tawar yang dijual Rp 10 ribu.  

“Kita masih menitipkan ke warung-warung. Kedepannya akan membuka outlet di pinggir jalan besar. Agar lebih bisa memperkenalkan produk kita. Tapi sebelum itu, kita ingin membuat pabrik yang terpisah dari rumah. Sehingga produksi bisa lebih efektif dan efisien,” papar ayah dua anak ini.

Kisah sukses usaha roti Cahaya Nikmah ini berawal di sekitar bulan April 2015 saat Jamani mendapat kiriman mixer dan oven dari adiknya di Banjarmasin. Saat giliran libur kerja, selama 2 minggu ia habiskan belajar membuat roti dari adiknya yang sengaja datang ke Samarinda.

Di minggu ke tiga, saya mulai menjual roti yang dititipkan ke warung-warung. Namun baru berjalan 1 minggu ia sudah harus kembali berlayar dan usaha dilanjutkan sang istri. Meski sedang berlayar, hati dan pikirannya selalu ke usaha rotinya. Begitu Kembali ke daratan, ia pun memutuskan berhenti menjadi pelaut dan fokus menjadi pengusaha roti.

Tabungannya senilai  Rp 50 juta jadi modal awal. Hanya dibantu sang istri, dalam sehari Cahaya Nikmah langsung menghabiskan 2 sak atau 50 kg terigu Cakra Kembar untuk membuat sekitar 500 buah roti gulung.

Baru 3 minggu, Jamani sudah mampu membeli motor untuk menambah penjualan. Melihat kesuksesan Cahaya Nikmah, sekitar 2 bulan kemudian 3 orang tetangganya menawarkan diri jadi sales.

“Kita memasarkannya ke wilayah perkebunan karena di sana kebanyakan orang bekerja dengan menggunakan tenaga manusia, bukan alat berat. Roti itu mereka makan untuk sarapan, dan bekal ketika ke kebun. Itu kan praktis bagi pekerja kebun karena tidak ribet dan mengenyangkan,” ucap pria kelahiran 1976 ini.

Tidak lekas berpuas diri,  Jamani pun kursus membuat aneka roti di Bogasari Baking Center (BBC) Samarinda. Menurutnya, belajar di BBC seperti belajar di bengkel. “Kalau ada masalah produksi, kita bisa bertanya langsung ke bakernya,” ujarnya seraya bersyukur karena sejak latihan di BBC usahanya makin berkembang karena ada inovasi produk.

Pesatnya perkembangan usaha Cahaya Nikmah meski belum sampai 5 tahun, membuat para dewan juri Bogasari SME Award 2019 tertarik dan bangga. Usaha pria yang ramah dan sederhana ini pun ditetapkan sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Gold.

Jamani sungguh bersyukur. Selain mendapat penghargaan, ia juga pernah diberangkatkan Bogasari ke Tanah Suci Mekkah sebagai pemenang Gelegar Bogasari Mitra Card tahun 2017. Baginya kemitraan dengan Bogasari sangatlah bermanfaat. Karena itulah ia tularkan ide usaha roti kepada kakanya yang di Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur. Alhasil sudah 4 dari mereka 7 bersaudara yang jadi pengusaha roti dan semuanya bermitra dengan Bogasari. (EGI)

  

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan