POSTED: 20 Juli 2020

Adalah Farida, wanita yang memiliki naluri bisnis yang cukup tinggi. Setelah 10 tahun menjalankan usaha toko oleh-oleh yang merupakan titipan dari berbagai UKM di Yogyakarta, ia memutuskan untuk memproduksi sendiri. Tahun 2009 ia dibantu karyawan tokonya  mulai memproduksi bakpia sendiri.

Kalau untuk pertama kali hanya saya dibantu dengan staf  yang sudah bantu sejak saya buka toko oleh-oleh. Kami berdua bukan chef. Kita sama-sama belajar dari nol. Kita trial and error. Bakpianya belum dijual, masih kita bagikan gratis. Pemakaian terigunya juga masih kiloan. Benar-benar masih sedikit,” kenangnya.

Kini 10 tahun lebih sudah berlalu, usaha dengan merek Bakpia Kencana ini sudah memiliki 4 tempat produksi dan 8 gerai. Farida bahkan memasok ke hotel-hotel di Yogyakarta dan seluruh restoran Pondok Cabe.

“Dalam sebulan Bakpia Kencana bisa menghabiskan 19 ton terigu Segitiga Biru per bulannya. Jumlah karyawan kami, alhamdulillah sudah lebih dari 100 orang,” ungkap wanita sarjana akuntansi tersebut.

Farida pun memaparkan sejarah panjang usaha Bakpia Kencana yang diawali dari krisis ekonomi tahun 1998. Saat  itu bagi mereka yang punya usaha, ada yang coba terus bertahan, ada pula yang beralih usaha. Satu diantaranya adalah usaha keluarga orangtua Farida.

Kedua orangtuanya mulai kebingungan karena bisnis penyewaan toko di lokasi Rest Area Ambar Ketawang, Yogyakarta milik  mereka  semakin terdampak krisis moneter.  Jadi saat itu ada bangunan yang dipakai kakak saya sebagai dealer mobil terkena dampak krisis moneter hingga akhirnya gulung tikar. Saya diminta orangtua untuk membuka usaha baru. Saya memutar otak, bagaimana caranya agar rest area yang berisi pom bensin dan rumah makan itu bisa hidup kembali. Terbesitlah usaha membuka toko oleh-oleh” ungkap Farida.

Menurut Farida, membuka toko oleh-oleh cukup sederhana tapi sangat mengena karena saat itu memang belum ada di tempat peristirahatan tersebut.  Dan hanya pom bensin serta rumah makan yang bisa bertahan di saat itu.

Pertama pengadaan barang itu kita nyari sendiri, kita beli dulu. Kita pontang-panting mencari supplyer (pemasok) yang mau mengisi toko kita. Bahkan sampai kita iklankan di koran. Setelah 2 tahun berjalan, baru ada supplyer yang mau,” papar wanita kelahiran Yogyakarta, 28 Juni 1974 ini.

Semakin terkenalnya Rest Area Ambar Ketawang, membuat semakin banyaknya UKM produsen makanan khas Yogyakarta yang menitipkan produk di toko oleh-oleh milik keluarga Farida. Setelah 10 tahun, tepatnya 2009, akhirnya muncul hasrat dalam diri Farida untuk memproduksi bakpia sendiri.

“Bakpia Kencana, itulah merek produk kami. Karena bakpia kita memang warnanya ke kuning-kuningan seperti kemilau emas. Kencana  juga menandakan sesuatu yang berharga. Jadi kami berharap produk kami bisa jadi makanan yang berharga bagi siapa saja penikmatnya,” ucap Farida.

Di awal produksi ia mengaku, setelah beberapa kali melakukan percobaan, pilihan terigunya jatuh kepada Segitiga Biru produksi Bogasari. Menurutnya tekstur bakpia buatannya menjadi lebih lembut di mulut. Pengembangannya juga sesuai dengan apa yang ia harapkan. Hal ini yang membuatnya semakin yakin dan berani untuk terus memproduksi bakpia.  

Rasa bakpianya pun bertambah 2 varian, yakni cokelat dan keju. Satu kotak isi 20 Bakpia Kencana bisa dibawa pulang dengan harga Rp 47.000 atau hampir 2 kali lipat dari pertama kali ia produksi. 

Selama perjalanan usaha 11 tahun ini, hal yang paling berkesan bagi Farida adalah saat Bakpia Kencana dipesan sejumlah orang penting di Indonesia. Diantaranya presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono yang selalu pesan untuk konsumsi di beberapa acaranya.  “Keluarga Pak Soeharto juga sering memesan Bakpia Kencana, sekali order bisa lebih dari 200 kotak,” ungka Farida bangga.

Dalam berusaha, ia berpesan agar menjadi seorang pengusaha itu harus amanah dan komitmen. Agar usahanya bisa dipercaya oleh berbagai pihak, termasuk pelanggan dan pemasok bahan. Karena membangun kepercayaan itu cukup susah, jadi jangan sampai disia-siakan.

Kesuksesan Bakpia Kencana ini kemudian mendapat penghargaan sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Platinum. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan