POSTED: 13 Januari 2018

Diah Arfianti bukanlah perempuan biasa. Tahun 2016, ibu rumah tangga berusia 39 tahun ini meraih gelar Pahlawan Ekonomi Award 2016 untuk kategori Home Industry. Atas penghargaan itulah, Diah menjadi salah satu dari empat produk UKM yang dipasarkan di Maskapai Penerbangan Citilink. November 2017 lalu ia mendapat pesanan 1000 boks dengan isi 6 kemasan per boksnya.

Diah Cookies, itulah nama usahanya. Ia memulai usaha kue kering tahun 2001 dengan menggunakan terigu Bogasari merek Kunci Biru. Dia bekerja sendirian di rumahnya di Jalan Ketandan Baru Blok 2 No 6, RT.10/RW.04, Kelurahan. Genteng, Kecamatan. Genteng, Surabaya. Namun Diah Cookies produksi musiman, di hari-hari besar keagamaan seperti Lebaran, Natal dan Imlek.

Perlahan usahanya mulai berkembang. Tahun 2005, Diah Cookies mulai merekrut 2 karyawan. Belajar dan pantang menyerah, itulah tekadnya. Dan tahun 2010 saat suaminya, Mochammad Rofiq terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), semangat usaha Diah semakin menjadi. Ibu dari 3 putri ini pun menjadikan usaha kue keringnya sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.  Sejak tahun 2010 itu, Diah Cookies berproduksi dan dipasarkan setiap hari.

“Saat itu saya berpikir, kue kering adalah makanan. Kalau yang namanya makanan, berarti setiap hari orang akan membutuhkan. Alhamdulillah teori saya pun terbukti,” ucap Diah.

Di tahun 2012, Diah mendengar ada program Pahlawan Ekonomi Surabaya yang digelar Walikota Surabaya.  Ia pun aktif mengikuti berbagai pelatihan yang digelar Pemerintah Kota Surabaya. Mulai dari resep hingga strategi pemasaran. 

Alhasil usaha Diah Cookies pun terus berkembang. Produksinya terus bertumbuh. Apalagi saat Lebaran naik berkali-kali lipat. Sehari-hari pemakaian terigu Bogasari bisa sampai 15 kilogram. Sedangkan jumlah karyawan sampai 6 orang. Namun saat musim Lebaran jumlah karyawan bertambah menjadi 10 orang. Sedangkan terigu Kunci Biru yang dipakai bisa sampai 25 kilogram per harinya.

Produk Diah Cookies saat ini memiliki 20 varian kue kering. Antara lain putri salju, almond cheese, red velvet milks, kastengel kentang, cookies nutella, stick keju dan masih banyak lagi. Akhir tahun lalu varian terbaru adalah Nastar Cake. Bentuknya cake namun rasanya nastar. 

“Insya Allah kalau tidak ada halangan, Februari nanti saya akan meningkatkan produksi. Alhamdulillah sudah siap rumah produksi yang baru, Saya sudah merekrut 25 tenaga produksi, 3 tenaga marketing, 1 admin, dan 2 kurir. Baru tahun ini saya serius bentuk tim. Saya ingin lebih maju dan lebih jos,” ucap wanita lulusan SMK Perhotelaan Satya Widia Surabaya ini.

Sehari-harinya Diah Cookies dipasarkan lewat media sosial facebook dan instagram. Sedangkan penjualan langsung dilakukan di rumah tinggalnya. Kendati demikian, produk Diah Cookies sudah menembus ke mancanegara. Salah satunya berawal saat Walikota Surabaya Tri Rismaharini berkunjung ke London lalu membawa produk Diah Cookies sebagai bingikisan.

“Pernah juga saat Filipinan pesan kapal ke PT PAL Surabaya. Produk saya menjadi bingkisan yang diberikan ke seluruh awak kapal Filipina tersebut sekitar 300 boks. Alhamdulillah, pembeli Diah Cookies berdatangan dari tamu mancanegara lain seperti Jepang, Amerka, dan Norwegia,” ungkapnya.

Bagi Diah, sukses bukanlah lahir begitu saja. Butuh kerja keras dan pantang menyerah. Prinsipnya tidak boleh lekas berpuas diri dan selalu menjaga kualitas produk. “Alhamdulillah saya bisa menghidupi keluarga, punya rumah lagi, oven dambaan seharga Rp 50 juta  bisa tercapai. Dulu nggak punya tabungan, sekarang sudah punya. Dan saya bahagia bisa bermanfaat untuk orang lain,” ucap anggota  Bogasari Mitra Card (BMC) ini. (RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.