POSTED: 12 September 2019

Sehari-harinya arus kendaraan di jalur Poros Sangatta-Bontang, Kalimantan Timur, terbilang ramai. Apalagi di bulan Ramadhan, jalur ini dipadati arus kendaraan yang menuju wilayah Kabupaten Timur (Sangatta) dan Kota Bontang. Di jalur poros ini tidak sedikit pengendara dan rombongan yang mampir ke warung Beppa Janda Juragan, tepatnya di  Jalan Teluk Kabah, Desa Teluk Singkama, Kecamatan  Sangatta Selatan.

Sejumlah rombongan berkendaraan roda empat maupun roda dua pasti mampir di warung yang menjual “Beppa Janda” atau di masyarakat Sangatta lebih dikenal kue ilat sapi. Ada yang makan di tempat sambil istirahat. Tapi lebih banyak yang beli bungkusan sebagai bekal makan di perjalanan sekaligus oleh-oleh.

“Saat ini, dalam sehari kami bisa menjual 7.000 kue ilat sapi atau beppa janda dengan harga hanya Rp 1.000 per kuenya. Pengunjung bebas membeli dengan jumlah berapapun. Namun saat ini kami hanya menyediakan 1 varian rasa dan belum berfokus ke pengembangan rasa. Kami masih berfokus di produksi dan pelayanan,” ucap  Muhammad Zulkarnain, pemilik usaha kue bermerek Beppa Janda Juragan.

Kue ini tergolong unik. Bagi masyarakat Sangatta dikenal dengan nama ilat sapi karena bentuknya menyerupai lidah sapi. Sedangkan bagi Zulkarnain atau yang akrab disapa Izul, karena berasal dari Makassar, kue ini lebih dikenal dengan sebutan Beppa Janda. Di kampung halamannya, ini merupakan kue buatan para janda nelayan yang meninggal di perairan. Beppa sama dengan kue, makanya sering disebut kuenya para janda.

Bujangan berumur 27 tahun ini memulai usaha sendiri sejak tahun 2017. Namun berkat kegigihan, mutu produk, dan kreativitas pelayanan, dalam 2 tahun usahanya tergolong cukup sukses.

Ini terbukti dari semula dikerjakan sendirian sampai akhirnya sekarang sudah memiliki 10 karyawan. “Awalnya kami hanya memakai 3-4 kg tepung Bogasari. Sekarang rata-rata 200 kg terigu Segitiga per hari, naik 50 kali lipat atau sekitar 6 ton per bulan. Bisa tambah kalau lagi bulan Ramadhan,” ucap pria yang sedang kuliah S-1 di Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) ini.  

 

Usaha kue ilat sapi ini sebenarnya sudah dirintis orangtuanya sejak tahun 2003 di pinggiran Kota Sangatta. Sepeninggal ibunya tahun 2017, Izul pun berhenti menjadi guru agama di salah satu sekolah swasta dan memutuskan untuk membuka usaha sendiri serta bertekad menjadikan ilat sapi sebagai oleh-oleh khas Sangatta.

Tanah dan bangunan warisan almarhumah ibunya di jalur Poros Sangatta-Bontang dijadikannya sebagai lokasi produksi sekaligus berjualan. Namun ia memberi merek dagangannya “Beppa Janda Juragan" dengan harapan kelak bisa menjadi juaragan kue yang sukses dan bermanfaat bagi warga sekitar.

Saat ini rumah usaha Juragan Beppa Janda hanya beroperasi mulai pukul 08.00 - 04.15 WITA.  “Ke depan kami ingin buka 24 jam dan menjadikan tempat ini sebagai rest area serta pusat oleh-oleh Khas Sangatta” harap Izul.

Untuk menjaga kualitas produknya, setelah sempat mencoba beberapa merek terigu lain, Beppa Janda Juragan hanya yakin dengan terigu Segitiga Biru produksi Bogasari. “Kalau pakai terigu Segitiga Biru, tekstur ilat sapinya jadi lebih empuk dan tidak lengket di gigi saat dimakan. Itulah ciri khas kue ilat sapi dari Beppa Janda Juragan,” ungkap Izul.

Selain rasa, pelayanan di warung makan ilat sapi juga tergolong unik dan kreatif. Setiap pembeli disuguhi minuman jahe, icip-icip ilat sapi, bahkan disiapkan makanan berat seperti nasi, lauk pauk dan sayuran secara cuma-cuma. 

 “Walaupun marginnya keuntungannya jadi berkurang, tapi kami lebih ingin memuaskan pelanggan yang datang. Pastinya mereka terkesan dan akan datang kembali membeli ilat sapi di Beppa Janda Juragan,” ujar Izul yang sangat ramah menyapa setiap pembeli.  (EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan