POSTED: 19 Oktober 2020

Pastinya banyak orang  yang ingin meraih gelar sarjana. Apalagi orangtua, mereka akan berusaha keras agar anaknya berhasil menjadi sarjana. Tentu bukan sekadar untuk dibanggakan tapi menjadi dasar harapan agar bisa meraih sukses.

Tapi lain halnya dengan pria kelahiran Pontianak 18 Januari 1991 ini. Ia malah berhenti melanjutkan kuliah dan gagal menjadi sarjana. Tapi hebatnya, ia malah berhasil menjadi pengusaha muda. Di usia yang belum mencapai 30 tahun, ia sudah sukses membuka 3 outlet roti dengan 2 merek berbeda di Pontianak, yakni Cotton Bread dan D’Bread.

Adalah Ardi Rimba, yang tidak melanjutkan kuliahnya di jurusan arsitektur Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Memasuki semester 5, ia merasa jenuh dengan rutinitasnya sebagai mahasiswa. Hal ini ia ungkapkan kepada orang tuanya, dan ia pun disuruh kembali ke pangkuan orang tuanya di Pontianak, Kalimantan Barat.

“Orang tua saya menyarankan saya, untuk pulang ke Pontianak bantu mengembangkan usahanya. Daripada tetap tinggal di Jakarta tanpa arah yang jelas,” ungkap Ardi.

Kisah sukses Ardi sebagai penjual roti, bermula 7 tahun silam atau sekitar tahun 2013. Selepas kembali ke kota khatulistiwa tempat kelahirannya, ia membantu mengelola salah satu usaha orang tuanya. Kala itu Ardi masih berusia 21 tahun dan diberikan  tanggung jawab untuk mengembangkan showroom mobil milik keluarganya.

Baru setahun berjalan, ia ditawari ayahnya untuk membuka usaha lain. Karena senang mengemil dessert , ia memutuskan untuk membuka toko roti dan dessert. Meski awam dalam dunia roti, ia mulai belajar dan mengonsep usaha miliknya. Mulai dari perekrutan baker, cara pembuatan, hingga  model usahanya.

“Yang tidak terlupakan ini pas mengonsep usaha dulu. Bersama baker pertama yang join, pernah seminggu kita belajar di JCC (Jakarta Culinary Center). Kita tidur bareng, belajar bareng, ngonsep bareng. Baker itu amsih bertahan sampai sekarang,” kenang pria kelahiran 18 Januari 1991 ini.

Sekitar 2 bulan mematangkan konsep, tahun 2014 Ardi membuka gerai pertama yang mencantumkan plang bertuliskan“Cotton Bread”. Awalnya ia memakai tepung terigu impor.  Karena sering terkendala di pengiriman ia memutuskan mencari tepung terigu lain.

“Pas susah tepung terigu yang biasa kami pakai, kami bertemu Bogasari. Waktu itu saya ditawari tepung Cakra Kembar oleh Cik Li Suan (Kepala Perwakilan Bogasari area Kalimantan Barat). Pas saya coba, hasilnya malah lebih bagus. Terus ditawari Cakra Kembar Emas, hasilnya jadi malah lebih bagus lagi. Lebih kokoh namun tetap lembut. Jadi Cakra Kembar Emas kita pertahankan sampai sekarang,” ungkapnya.

Alhasil, produk dari Cotton Bread kian memikat lidah masyarakat Pontianak. Geliat usahanya menjadi lebih cepat dari sebelumnya dan pundi-pundi cuan pun mulai terlihat.  Di tahun 2017, ia memutuskan untuk membuka gerai lagi, namun dengan merek usaha yang berbeda, yakni D’Bread.

Sengaja dibedakan, agar menimbulkan persaingan yang memotivasi pekerjanya di masing-masing gerai. Dan di tahun 2018 ia kembali membuka gerai roti model sistem kerja sama dengan temannya.  

“Totalnya outlet (gerai) ada 3, yang buka sejak jam 10 pagi sampai jam setengah 10 malam. Tapi produksi rotinya sudah mulai sejak jam 7 pagi. Produknya kini ada sekitar 40 varian rasa roti manis dan 4 variasi roti tawar. Semuanya dijual dengan rentang harga Rp 10 ribu – Rp 20 ribu. Tapi kami juga ada promo-promo seperti beli 3 gratis 1, serba Rp 8 ribu, Diskon 50 persen setelah jam 6 sore, dan masih ada lagi,” jelasnya.

Di antara promo yang ia suguhkan, promo “Diskon 50% setelah jam 6 sore” itu yang paling menarik hati masyarakat Pontianak. Walau memberikan diskon setengah harga, anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku tidak mengalami kerugian. Ia malah bersyukur, rotinya bisa habis dan tidak terbuang esok hari. Terlebih di tengah pandemi seperti sekarang ini.

“Selama pandemi, kami tetap memepertahan kan promo diskon 50% itu. Dengan promo itu pun, di awal masa pandemi usaha kami menurun hingga 50%. Bersyukur saat ini sudah kembali lagi di angka 70% dari sebelum pandemi,” ujar pria yang berencana menikah pas usia 30 tahun ini.

Walau usahanya menurun drastis saat pandemi, tidak ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada karyawannya. Ia hanya mengganti jam masuk kerja karyawan menjadi bergiliran, sembari terus mengingatkan, “Jika ada niat berusaha ayok kita kerja bersama, jika tidak ada niat bekerja mending pergi saja daripada menghambat kami punya usaha,” pungkasnya. (EGI/RAP/REM)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan