POSTED: 22 Juni 2020

Memang dari dulu saya hobi memasak, dari kecil sampai kuliah itu saya ambil jurusan tata boga. Saya dulu dari SKP (Sekolah Keterampilan Putri), kalau anak sekarang itu setara SMP (Sekolah Menengah Pertama). Kemudian lanjut masuk SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan IKIP (Institute Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Di sana pun saya ambil jurusan tata boga.

Begitulah kira-kira jawaban Esty Prasetyawati saat ditanya kenapa memilih usaha roti dibanding usaha lainnya. Kendati demikian, setelah lulus kuliah tahun 1986, ia tidak langsung membuka usaha roti. Ia sempat mencicipi dunia pengajaran sebagai staf pendidik di salah satu sekolah di Jakarta. Itu bertahan kurang lebih 6 tahun.

Di tahun 1992, Esty memutuskan untuk membuka usaha roti dengan nama Dynamic Bakery.  “Dulu di sini adalah tempat fitness, namanya ‘Dynamic Fitness’, lalu tutup dan kita buka outlet bakery. Karena orang-orang di wilayah sini sudah familiar dengan nama itu, jadi namanya tetap kita pertahankan.  Itu sampai sekarang,” jelas Esty.

Menggunakan alat-alat sederhana, di awal usahanya  Esty menghabiskan tepung terigu Cakra Kembar sekitar 20 kg per hari. Ia membuat roti manis, roti keset dan roti tawar yang kemudian dijual dengan harga Rp 500. Usahanya berjalan lambat, sehingga ia memutuskan untuk ikut kursus di Bogasari Baking Center (BBC) selama 1 setengah bulan.

“Kita diinfokan nama-nama tepung, bagaimana sifat-sifat tepung dan kegunaan setiap bahannya. Kemudian diajarkan dasar-dasar membuat roti, semuanya saya dapat ilmu dari pelatihan Bogasari,” akunya.

Tahun ke tahun Dynamic Bakery terus berkembang. Ia pun mengembangkan berbagai jenis roti, kue, dan jajanan tradisional. Kini, berbagai olahan roti dijualnya dengan harga dari Rp 11.500-50.000. Jajanan tradisional dijualnya dengan harga Rp 7.000-35.000. Untuk cake, harganya menyesuaikan sesuai dengan tingkat kesulitan dan ukurannya.

Semakin dikenalnya produk Dynamic Bakery, membuat Esty semakin bersemangat dalam melakukan promosi. Akibatnya banyak pesanan yang datang dari berbagai instansi dan perusahaan, baik swasta maupun pemerintah. Termasuk BUMN, kepolisian dan TNI. Selain bertambahnya pesanan, outlet Dynamic Bakery juga kian menjamur seiring munculnya mall-mall di Jakarta.

“Pas pertama itu kita masuk mall diamond, terus berkembang kita juga buka di Mall Kelapa Gading (MKG) 2 di tahun 1994, sekitar tahun 2000-2005 di MKG 3, kita juga buka di Puri Indah Mall dan masih ada lagi. Sekarang  total outlet kita ada 12,” jelasnya.  

Konsumsi tepung terigu Dynamic Bakery pun bertambah menjadi sekitar 80 sak per minggu, atau sekitar 320 sak per bulan. Selain inovasi produk, yang bisa membuat merek bertahan hingga saat ini ialah konsistensi membuat produk yang natural dan sehat. Ditambah dengan kejujuran terhadap pelanggan.

“Sejak dulu bahan-bahan yang kita gunakan adalah bahan-bahan yang natural, dan sehat. Karena kita memang sejak awal concern pada roti yang sehat. Tips dari saya bagi yang ingin membuka usaha ialah berikan yang terbaik, jujur terhadap konsumen, dan konsisten terhadap apa yang sedang dituju,” pungkasnya.

Berkat perkembangan usaha dan konsistensinya dalam mengampanyeukan produk sehat, Dynamic Bakery terpilih sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Gold. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan