POSTED: 17 Oktober 2019

Perang selalu saja menyisakan kesedihan, tak terkecuali bagi Muhammad Sajie. Pria kelahiran Alepo, Suriah, 4 September 1985 itu memutuskan untuk menetap di Indonesia sejak 2011 lalu.

Samarinda, Kalimantan Timur adalah kota ia melanjutkan hidup bersama sang istri, Andi Suryani, yang pernah jadi tenaga kerja wanita (TKW) di Suriah dan 3 anaknya.

Untuk meneruskan hidup, ia dan istri buka usaha makanan sejenis kebab. “Syawarma Suriah” itulah nama usaha makanan yang ia tekuni dan sempat viral di Kota Samarinda dan sekitarnya. Terbukti, stan “Syawarma Suriah” juga selalu diantre para pengunjung acara Gelegar Hadiah BMC (Bogasari Mitra Card) Tahap 1-2019 yang berlangsung di Samarinda Agustus lalu.

Nama tersebut dipilihnya sesuai dengan nama makanan dan asal negaranya  Ketika di di Turki ia juga berdagang makanan tesebut.  “Karena makanan ini adalah makanan favorit orang Suriah, Turki, Jordan dan wilayah timur tengah lainnya. Lalu saya hubungi teman saya di Turki untuk meminta resepnya. Setelah dicoba, ternyata resepnya tidak sesuai dengan lidah orang Indonesia. Jadi saya ganti beberapa bahan, agar sesuai dengan lidah orang Indonesia,” kata pria yang bisa disapa masyarakat sekitar Ustadz Sajie.

Awalnya ia mencoba 1 kg terigu untuk membuat kulit syawarma. Setelah mencoba berbagai merek terigu, ia pun memilih merek Segitiga Biru dari Bogasari. Menurutnya, roti yang dihasilkan lebih lembut dan lebih terlihat fresh walau didiamkan dalam freezer beberapa hari.

“Setelah ditemukan resep yang pas, saya buat dan saya bagikan ke teman-teman. Dari 50 orang yang mencicipinya hanya 3 orang saja yang mengaku tidak suka, 47 lainnya menyukainya,” ucap Sajie tersenyum bangga.

Dengan modal Rp 8 juta hasil pinjaman, ia membuat gerobak. Ia mulai dengan 1 kg tepung terigu untuk membuat sekitar 20 kulit syawarma dan 2 ekor ayam fillet sebagai isian.  Meksi beda resep, Sajie menjamin proses penyajiannya sama dengan di Turki. Ayam dibersihkan dari tulang, lalu direndam dalam bumbu sekitar 2 jam. Setelah bumbu meresap, ayam ditusuk dan dipanggang di panggangan khusus.

Dari mulut ke mulut, usahanya mulai dikenal orang, bahkan sempat viral di media sosial. Ada banyak tayangan youtube buatan pengunjung, khususnya anak-anak muda. Saking viralnya, ia sempat kewalahan karena masih dengan cara manual dan tidak ada karyawan. Ia pun jatuh sakit dan 9 bulan usahanya berhenti.  

 “Saya tidur hanya 3 jam, jadi 21 jam itu saya kerja. Saya drop dan masuk rumah sakit, Dokter bilang saya tekena penyakit jantung koroner,” ungkapnya.

Selama masa pemulihan ia membuka usaha pakaian di Pasar Pagi bersama istrinya. Setelah pulih, ia kembali berjualan Syawarma Suriah. Belajar dari pengalaman, ia merekrut karyawan yang merupakan perantau dari berbagai daerah seperti, Madura dan Sulawesi Selatan.

 

Sekarang, karyawannya berjumlah 10 orang dan sudah menggunakan mesin pembuat adonan otomatis. Kapasitas produksi usahanya mencapai 1 sak terigu Segitiga Biru per hari atau sekitar 600 kulit syawarma. Ia memiliki 1 outlet dan 1 mobil operasional untuk berkeliling. Harga jual Syawarma pun naik dari Rp 15 ribu jadi Rp 20 ribu per porsi.

Rencananya, Sajie akan buka waralaba berupa paket usaha dan pelatihan. Siapa saja yang mau membuka Syawarma Suriah harus nelajar langsung dengannya, karena ia tidak ingin usaha yang dirintisnya hancur karena ulah mitranya yang tidak komitmen terhadap kualitas produk.

“Saya harap usaha ini bisa tumbuh besar dan berkembang ke seluruh wilayah Indonesia. Serta bisa memberikan manfaat bagi banyak keluarga” harap Sajie. (EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan