POSTED: 10 Juli 2018

Mengadu nasib ke Jakarta terus menjadi pilihan banyak orang. Bahkan tidak jarang ada yang nekat datang dengan hanya berbekal ijazah SMA dan tanpa pengalaman kerja. Seperti halnya Muhammad Komarudin, selepas lulus SMA tahun 1997 langsung merantau ke Ibukota.

Meski dilarang orangtua, pria kelahiran Tegal 5 Maret 1976 ini tetap nekat berangkat. Tapi siapa yang meyangka, kalau pria yang pernah menjadi kernet metromini itu akhirnya berhasil menjadi juragan martabak di Ibukota.

Martabak Bangka Faiz, itulah nama usahanya yang dirintis sejak tahun 2001. Kini ia memiliki 1 gerobak mangkal dan 11 mobil boks martabak yang tersebar di wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Bahkan ada yang di Lampung Timur dan Kalimantan Selatan.

Sebelum sukses dengan usaha martabak, dari tahun 1997-1999 beragam pekerjaan serabutan ia tekuni. Termasuk menjadi kernet metromoni di terminal Pulogadung. Di suatu waktu tahun 1999, Komar pun bertemu dengan tetangganya yang berjualan martabak di sekitar Bekasi. Ia pun memilih ikut bekerja dengan teman sekampungnya asal Tegal itu.

Dua tahun kemudian, 2001 Komar memutuskan buka usaha martabak berbekal tabungan Rp 2,5 juta selama membantu temannya. Bersama istrinya, Faijah, ia  berdagang martabak dengan gerobak mangkal di depan Indomaret di Jalan Johar Baru, Jakarta Pusat.  Merek usaha Martabak Bangka Faiz diambil dari nama depan anak pertamanya, Faiz Yusqi.

Tahun 2007 Komar melihat mobil pick up keliling menjajakan alat-alat kebutuhan rumah tangga. Dari sanalah ia terinspirasi memperluas usahanya dengan menggunakan mobil boks. Saat itu ia mendapat rekomendasi dari Bogasari untuk menerima pinjaman dari Bank Mandiri senilai Rp 50 juta.

Diawali dari 1 mobil dan kini menjadi 11 mobil. Dua diantaranya dikelola kedua adiknya yang dulunya bekerja di perusahaan swasta. Yang satu di Lampung dan satunya lagi di Banjarmasin. 

“Berjualan martabak menggunakan mobil memiliki kelebihan dibanding dengan membuka outlet atau berjualan dengan gerobak. Dengan mobil, saya tidak perlu membayar mahal sewa outle. Dan kalau dagangan tidak laku bisa langsung pindah ke tempat yang ramai. Dengan gerobak omzetnya hanya 3-4 juta per bulan, tapi dengan mobil bisa sampai Rp 30 juta setiap bulannya,” ucap ayah dari anak ini.

Untuk operasional tiap mobil membutuhkan 3 karyawan. Total bahan baku terigu yang dibutuhkan per bulannya adalah 300 karton merek Cakra Kembar dan Segitiga Biru. Setiap karton berisikan 12 kemasan terigu seberat 1 kilogram. Sehinga total pemakaian terigu Bogasari untuk produksi Martabak Bangka Faiz mencapai 3.600 atau sama dengan 3,6 ton per bulan.

Jam operasional Martabak Faiz dari pukul 16.30-24.00. Salah satu outlet yang selalu ramai adalah yang berada di Jalan Percetakan Negara II, Johar Baru, seberang Masjid Al-Isro. Di setiap outlet selalu ada promosi dengan pembelian 5 loyang martabak telor maka pembeli cukup membayar 4 loyang. Promo lainnya adalah setiap pengumpulan 20 kupon yang ada di kemasan, maka pembeli mendapat 1 loyang martabak manis coklat, kacang, atau telor biasa secara gratis.

Menu martabak manisnya pun bervariasi, mulai dari menggunakan bahan kacang mede, pisang, wijen, hingga kismis. Bahkan topping kekinian pun sudah bisa ditemui di Martabak Faiz, dimana tersedia topping Nutella, Ovomaltine, Toblerone, hingga pandan. Harganya pun cukup terjangkau, mulai dari Rp. 20.000,- hingga Rp. 45.000,-

Komar juga mendorong karyawannya untuk membuka outlet martabak sendiri.  Tidak hanya resep membuat martabak yang ia ajarkan, tapi juga menyediakan perangkat menjual martabak dengan sistem bagi hasil.

“Dengan cara seperti ini, sudah cukup banyak mantan anak buahnya yang sukses berjualan martabak sendiri, baik yang masih menggunakan nama Faiz ataupun dengan merek sendiri,” ucap anggota Bogasari Mitra Card (BMC) ini. (DIK/RAP)

 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan