POSTED: 08 Agustus 2019

Ekonomi sulit dan pendidikan hanya SMA, membuat Edi Sucahyono memutuskan untuk menjadi TKI di Korea sejak tahun 1993. Setelah 3 kali bolak-balik mencari peruntungan sebagai TKI di negeri orang, tahun 2013 ia memutuskan untuk menetap di Indonesia.

Ia pun memilih untuk menekuni usaha di bidang roti. Alhasil, hanya kurang dari 6 tahun, lulusan SMA Widyatama Jember ini berhasil menjadi pengusaha roti yang sukses dengan merek Armanda Bakery. 

Dalam sebulan, pabrik rotinya menghabiskan 750 zak terigu Cakra Kembar atau hampir 19 ton. Desember 2018 lalu, Armanda Bakery pun berhasil meraih Nominator Bogasari SME Award 2018  Kategori Platinum.

Selain menjadi TKI, Edi juga pernah mencoba peruntungan di usaha jual-beli motor, bengkel hingga pembuatan alumunium. “Saya balik lagi ke Indonesia sekitar tahun 2012 akhir. Sebelum pulang saya ingin menciptakan suatu usaha kecil yang bisa memberikan manfaat untuk lingkungan sekitar. Akhirnya di awal tahun 2013, saya memutuskan untuk fokus berjualan roti," ujarnya.

Edi mulai produksi roti pada 14 September 2013. Saat itu ia dibantu 2 temannya, 1 bagian produksi dan 1 lagi bagian pemasaran.  Ia memilih nama anaknya “Armanda” sebagai merek usaha.  

Di awal usaha, Armanda Bakery menghabiskan 1 – 2 zak terigu Cakra Kembar.  Lalu roti buatannya dipasarkan dengan cara dititipkan ke warung dan swalayan di wilayah Banyuwangi. Sekitar akhir tahun 2013, usahanya sempat berhenti produksi selama 2 minggu, karena 2 teman seperjuangannya dalam merintis usaha tersebut berhenti bekerja.

Modal yang kian menipis, memaksanya memutar otak dan memutuskan untuk belajar di BBC Jember. “Saya belajar 5 hari, mengenai resep, cara, dan pengetahuan mengenai roti. Di sana dikasih tahu materi dasar mengenai kegunaan dari setiap bahan-bahan yang digunakannya,” kenang pria kelahiran Jember 47 tahun lalu ini.

Sejak saat itu, usahanya terus berkembang. Hingga pertengahan tahun 2019 Armanda Bakery sudah memiliki 18 karyawan, 12 orang bagian produksi, 3 orang sales, dan 3 orang supir. Penggunaan terigu pun juga terus meningkat hingga hampir 19 ton per bulan.

Wilayah pemasaran Armanda Bakery cukup meluas. Tidak hanya di warung-warung, tapi swalayan di beberapa wilayah seperti Probolinggo, Jember, Situbondo, dan Bondowoso. Roti tawar tetap menjadi produk andalannya dan dijual dengan harga Rp 8 ribu. Sedangkan produk roti manis yang memiliki 7 variasi bentuk dijual dengan harga jual Rp 1 - Rp 9 ribu.

Ada 2 kata kunci keberhasilan yang didapat Edi selama menjalankan usahanya. Pertama, harus tahu lingkungan di sekitar dan harus mau mengintrospeksi diri saat mengalami kegagalan. Kedua, tetap berusaha dan yakin pada doa yang dipanjatkan, karena tetap yang memutuskan adalah Yang Maha Kuasa.

Ia mengakui, kesuksesannya tidak lepas dari pengalaman kerja semasa jadi TKI. Ia coba menerapkan apa yang ia dapat di Korea pada usahanya. “Saya menerapkan apa yang bos saya lakukan dulu di Korea, walaupun sudah punya banyak karyawan ia tetap mau turun tangan bekerja bersama karyawan lainya. Hal ini yang membuatnya dulu ketika menjadi TKI semangat bekerja pada bos tersebut,” ucapnya. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan