POSTED: 08 Oktober 2019

Ada sebagian orang memilih hidup merantau dengan apa adanya. Bahkan hanya berbekal keberanian dengan pendidikan dan kemampuan  terbatas. Tapi tidak bagi Soekoco, pria kelahiran Ponorogo 39 tahun lalu ini.  Ia membekali diri dengan kemampuan membuat mie  dan pangsit sebelum hijrah ke Balikpapan, Kalimantan Timur 6 tahun silam .

“Ya dulu selama 2 tahun saya ikut kakak bantu bikin bakso dan mie di kampung halaman. Terus kepikiran, masa saya mau ikut kakak terus,. Akhirnya saya memutuskan merantau dengan niat buka usaha usaha sendiri,” ucap Soekoco.

Dengan modal sekitar Rp 30 juta, Soekoco membeli mesin pembuat mie dan menyewa 1 unit kios di Pasar Baru, Balikpapan tempat ia berjualan saat ini. Memang ia baru memiliki 1 orang karyawan, tapi dalam sebulan sudah menghabiskan 210 sak terigu Cakra Kembar dan Lencana Merah, atau sekitar 5 ton per bulannya.

Di awal usaha tentu tidaklah mudah baginya dan hanya memakai 1 sak tepung Bogasari. “Awal-awalnya agak susah cari langgangan, tapi lama-lama alhamdulillah sudah bagus.  Saya cari pelanggan dengan mendatangi ke tokonya, lalu menawarkan mie. Pembelinya pedagang mie, bakwan, lumpia,  batagor masih banyak lagi,” kenang pria asal Jawa ini.

Soekoco termasuk maniak sepakbola. Diego Costa pemain asal Spanyol merupakan pemain favoritnya. Itulah yang melatarbelakangi pemililan nama usaha mienya  “Diego Vidar”.  Unik dan terkesan berbau luar negeri sehingga orang jadi penasaran.

Di lantai dasar Pasar Baru, produksi Diego Vidar beroperasi sejak sebuh pukul 3 sampai seiang menjelang pukul 11 siang.  Ia memakai terigu Cakra Kembar untuk bikin mie dan Lencana Merah untuk pangsit. Setiap sak terigu Cakra Kembar atau Lencana Merah bisa menghasilkan 31 kg mie dan harga perkilogram Rp 12 ribu.   

 “Menurut pelanggan saya, mie yang saya buat dari tepung Bogasari lebih cepat perebusannya dan tidak boros gas elpiji. Beda dengan mie dari tepung lain. Trus pembeli mie para pelanggan saya juga tidak kelamaan menunggu. Itu pengakuan dari pelanggan makanya saya tidak berani pakai tepung lain selain Bogasari,” ucap Soekoco yang suka bertopi.

Dalam mendongkrak penjualan, sejak awal 2019 ini, Diego Vidar menerima pesanan melalui short messages service (SMS) dan WhatsApp (WA) serta transportasi pengantaran daring (ojek online). Menurutnya cara ini lebih efektif dan efisien karena pelanggan tidak harus datang ke pasar.

Soekoco berencana ekspansi ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan karena termasuk tinggi konsumsi mie ayam.  “Semoga tahun depan bisa buka cabang di Banjarmasin dan rencana saya di Balikpapan akan dijaga adik saya. Jadi saya akan terjun langsung buka cabang di Banjarmasin, seperti di Balikpapan dulu,” tekad pria yang hanya lulusan SMA di Ponorogo ini.(EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan