POSTED: 10 Januari 2020

Tak sedikit UKM mitra binaan Bogasari yang terus berinovasi. Mereka mahir mengolaborasikan tepung terigu Bogasari dengan komoditas pertanian lokal. Seperti halnya Sayuk Wibawati pemilik usaha Nutsafir yang berhasil menciptakan aneka cookies dari aneka biji-bijian, seperti biji kopi, kacang mete, kacang ijo, kacang kedelai, lebui, kacang merah, jagung, dan melinjo.

Total ada 8 jenis biji bijian.  “Biji-bijian itu berasal dari NTB, baik dari Lombok maupun Sumbawa. Dalam 1 bulan kami menghabiskan 100 kilogram biji-bijian. Untuk meraciknya kami memakai terigu Kunci Biru dari Bogasari. Karena dengan menggunakan terigu Kunci Biru, hasil kuenya terlihat lebih bersih dan mengembang, serta lebih renyah,” jelas Sayuk Wibawati yang lebih senang dipanggil Mbak Sayuk.  

Untuk menghasilkan aneka cookies, dalam sehari Nutsafir minimal memakai 1 sak terigu Kunci Biru. Kalau bulan Ramadhan bisa hampir 3 sak atau sekitar 60 kilogram tepung terigu Bogasari. Sedangkan jumlah karyawan Nutsafir 15 orang dan semuanya perempuan, serta umumnya ibu rumah tangga.

“Saya ingin menunjukkan kalau perempuan itu bisa berkarya, jadi tidak hanya menengadahkan tangan. Kalau perempuan itu hebat, dan tidak ada salahnya perempuan membantu perekonomian keluarga,” ucap Sayuk yang hanya lulusan SMA ini.

Sayuk memulai usahanya saat merasa punya banyak waktu luang sebagai seorang ibu rumah tangga. Sekitar bulan September 2012, ia coba membuat kue kering dengan rasa kacang ijo. Ia hanya dibantu kakak dan pembantu rumah tangganya.

“Sebenarnya resep ini adalah resep yang berasal dari nenek moyang, yang bisa di-browsing di internet. Resep itu namanya kue kacang tanah, tapi saya tidak mau membuat kue itu dari kacang tanah. Saya ingin membuat kue dari biji-bijian yang banyak nutrisinnya,” ucap wanita berparas ayu ini. 

Setelah kacang ijo, 5 bulan kemudian membuat rasa kacang kedelai, lalu kacang mete dan kacang merah. Total 4 varian rasa. Bak gayung bersambut, inovasinya disambut pemerintah daerah setempat. Sayuk diminta untuk mengembangkan varian dari biji jagung, sesuai dengan kekayaan produk pertanian setempat.

Awal pemasaran Nutsafir hanya melalui penitipan di toko oleh-oleh. Setelah mulai berkembang dan kemasannya juga dipercantik, Sayuk akhirnya menggunakan rumahnya yang beralamat di Jalan Angsoka nomor 14 Mataram Barat, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, tidak lagi hanya produksi tapi sekaligus menjadi outlet.

“Untuk pemasaran kami juga bekerja sama dengan hotel-hotel. Kita ada di e-commerce dan di media sosial seperti Facebook dan Instagram dengan akun @NutsafirLombok serta website www.nutsafirlombok.com Jadi orang-orang di luar daerah bisa memesan melalui ketiganya,” kata Sayuk.

Tak henti berinovasi, wanita asli kelahiran Blitar, Jawa Timur 15 April 1976 ini terus mengembangkan varian biji lainnya. Mulai dari kacang mete, kacang kedelai, biji kopi, dan masih banyak lagi. “Lombok kan terkenal dengan kopinya, saya pun tertantang bagaimana kopi tidak hanya bisa diminum tapi juga dibuat ajdi kue kering,” tambahnya.

Pengembangan kue kering dari berbagai biji-bijian ini diakuinya tidak mudah. Butuh eksperimen berkali-kali karena tiap biji-bijian memiliki tingkat kemanisan yang berbeda. Bahkan harus dilakukan survei pasar untuk memastikan potensi penjualan agar bisa dilakukan modifikasi.

Dalam sehari, Nutsafir mampu menghasilkan 420 kotak. Harga  untuk kemasan 110 gram Rp 20 ribu. Di tahun 2017 omset Nutsafir sempat menembus Rp 1,7 miliar. Namun malang, akibat bencana gempa bumi yang dashyat mendera Lombok di tahun 2018 terjadi penurunan drastis wisatawan lokal maupun mancanegara. Omset seluruh oleh-oleh khas Lombok, termasuk Nutsafir menurun drastis.

Di tahun 2019, ibu dari 3 anak ini -2 mahasiswa dan 1 SMP- bersama karyawannya mulai mengembangkan varian baru yakni rasa cokelat almond dan kelapa. Jadi saat ini ada 10 varian rasa.  “Saat ini yang paling laku adalah mete, karena mete yang berasal dari Sumbawa memiliki cita rasa gurih, jadi mete itu adalah best seller-nya,” ungkap Sayuk.

Kesuksesan Nutsafir juga tak lepas dari berbagai perijinan usaha yang sudah dimiliki termasuk sertifikat halal dari LPPOM MUI dan berbagai penghargaan. Pertama kali didapat tahun 2016 menjadi juara 3 master chef dari salah satu produsen margarin terkenal. “Besar sekali dampaknya bagi produk kami, karena dengan diperbolehkan mencantumkan logo merek margarin tersebut, customer jadi semakin percaya,” ujaranya.

Di tahun 2017 Nutsafir meraih Bintang 1 Keamanan Pangan dari BPOM dan Halal Award sebagai Kategori UKM Halal terbaik se-Indonesia. Terbaru, November 2019 meraih penghargaan “Empowering Inspiring untuk Perempuan” karena memperjuangkan perempuan agar bisa tetap bekerja dan Juara 1 untuk Kategori Usaha Kecil pada Jamkrindo Awards 2019.

Dalam menjalankan bisnis, Sayuk tak lupa berbagi pengetahuan kepada para pelajar dan mahasiswa. Sejak tahun 2014 ia juga membuka program magang untuk siswa SMK jurusan tata boga dan mahasiswa biasanya jurusan agribisnis. Di Nutsafir mereka berkesempatan belajar proses produksi, belanja hingga pemasaran. “Mereka benar-benar belajar menjadi entrepreneur, “ ujar Sayuk.

Atas keberhasilannya, Sayuk juga sering diundang sebagai pembicara di berbagai seminar. Sedangkan lokasi usahanya sering mendapat kunjungan dari berbagai instansi dan atau rombongan wisatawan. Menurutnya ini bagian dari promosi guna meningkatkan penjualan. 

Ia memilih dan mematenkan merek Nutsafir karena berasal dari biji-bijian “nut” dan “safir” yang merupakan salah satu permata. Filosofi dari usahanya adalah butiran kacang yang jika diolah dengan cinta akan menghasilkan butiran permata. Dan permata ini, artinya bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Jadi kami di sela libur, kami pergi ke panti asuhan dan ke panti jompo. “Berbagi” itu merupakan sebuah keharusan bagi kami. Setiap hari selasa kami berkunjung ke panti jompo untuk berbagi makanan dan obat-obatan,” ungkap Sayuk. 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan