POSTED: 23 Juli 2019

UKM yang juga anggota Bogasari Mitra Card (BMC) ini mengawali usahanya dengan produk roti bluder di tahun 2002.  Garasi mobil disulap menjadi oulet dan kini berhasil memiliki  cabang di Bondowoso dan Tegal.

Sebenarnya usaha roti bluder ini awalnya dijalankan sang ibu, bernama Lulu di tahun 90-an awal dengan merek Bluder Istimewa.  Saat itu  Maryam yang  hanya lulusan SMP ikut bantu-bantu.

“Sejak lulus SMP saya sudah bantu ibu membuat roti bluder untuk disajikan setiap ada acara keluarga. Tapi dulu tidak langsung buka usaha roti. Saya pernah jualan kain dan jasa jahit, tapi rasanya tidak cocok. Baru pada tahun 1995 memutuskan untuk membantu ibu usaha roti bluder dan memasarkannya.,”  ungkap Maryam.

Keseriusan keluarga Maryam mengembangkan roti bluder semakin terlihat tahun 2002 dan memakai merek baru “Permata Bakery”. Nama ini diambil dari arti lain nama ibunya “Lulu”, yang  dalam bahasa Arab berarti permata atau mutiara.

Setelah memiliki outlet, Maryam bersama ibu dan 2 karyawan terus melakukan inovasi. Mereka mulai menjual roti manis dengan sejumlah varian rasa, seperti cokelat, vanilla, dan lain-lain.  Dalam sehari, Permata Bakery menghabiskan 5 kg terigu Cakra Kembar dan menghasilkan lebih dari 70 potong roti.

“Ketika kita pakai terigu Cakra Kembar hasilnya pas dan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Rotinya lembut, ketika disobek remahnya tidak terlalu banyak,” ujar anak pertama dari 4 bersaudara ini.

 

Berlatih di BBC

Setahun kemudian, sekitar tahun 2003-2004, Maryam dan karyawannya pun sengaja berlatih di Bogasari Baking Center (BBC) Jember untuk mengembangkan usaha, Maryam bersama karyawannya belajar membuat roti di Bogasari Baking Center (BBC) Jember sekitar tahun 2003-2004.   “Dengan adanya paket-paket tersebut jadi kita bisa mendalami apa yang ingin kita kembangkan dan alhamdulillah berhasil,” kata Maryam.

Usaha keluarga Permata Bakery terus berkembang dan kini sudah memiliki  20 karyawan dan 3 outlet.  Kesuksesan itu menjadikan Maryam sebagai Nominator Bogasari SME Award 2018 Kategori Silver, yang digelar akhir tahun lalu.

 Selama perjalanan usaha keluarganya, wanita berusia 47 tahun ini mengaku tidak selamanya lancar. Ia bahkan pernah mengalami kesulitan karyawan dan sampai saat ini belum memiliki orang kepercayaan.

“Ini kan usaha keluarga, jadi mau tidak mau harus ada kelurga yang duduk mengawasi di sana. Seperti adik saya yang nomor 2, ia memegang usaha Permata Bakery di Tegal. Untuk outlet di Bondowoso masih dikirim dari Situbondo rotinya, karena untuk menjaga konsistensi kualitas rotinya” ungkapnya.

Saat ini Permata Bakery  bisa menghabiskan 200 zak terigu Cakra Kembar Emas dan Segitiga Biru untuk produksi sebulan. Produk yang dijual terdiri dari 30 varian rasa dengan harga kisaran Rp 4.500 – Rp 22.000.  Wilayah pemasarannya sudah meliputi Jember, Probolinggo, Gresik, Malang, Surabaya, dan beberapa wilayah sekitarnya.

Selain meraih Nominator Bogasari SME Award 2019, Permata Bakery juga meraih piagam Bintang 1 dari BPOM Surabaya di tahun 2012-2019.  (EGI) 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan