POSTED: 06 Maret 2020

Bila tidak bisa mengolahnya, buah yang melimpah bisa berakhir menjadi limbah. Seperti salak yang ada di Balikpapan yang membusuk karena petani sekitar tidak paham untuk mengkreasikannya. Prihatin dengan kondisi tersebut, Riswah Yuni, perempuan asli Balikpapan mencoba membuat kreasi makanan dengan menggunakan buah yang rasanya cenderung sepet dan masam itu.

Saya berdialog dengan para petani salak waktu itu. Ternyata salak yang begitu melimpah di Balikpapan apabila tidak laku dijual, mereka membuangnya kembali ke kebun mereka,” jelasnya.

Oleh karena itu, di tahun 2012 akhir, wanita kelahiran 1977 itu menciptakan kue dengan berbahan dasar salak yang ia beri nama Cake Salakilo. Mengawali bisnisnya dari rumah, Riswah menggunakan 1 kg salak dan 1 kg terigu Segitiga Biru dalam sehari, tanpa dibantu karyawan. Lalu, ia mencoba memasarkan produk buatannya melalui media sosial ataupun website.

“Sejak awal saya memasarkannya menggunakan media online, baik dari website, Instagram, Facebook, dan Twitter. Karena memang sekarang eranya era digital, saat ini orang lebih banyak mencari informasi melalui smartphone,” ujar ibu 2 orang anak ini.

Ternyata produk inovasi menggunakan salak ini ditanggapi positif oleh masyarakat. Produknya banyak dibeli sehingga penggunaan terigunya pun bertambah.

“Pelan-pelan, produksi kami terus meningkat. Sampai kini dalam sehari kami mampu menghabiskan minimal 100-120 kg daging buah salak dan 25 kg terigu Segitiga Biru dari Bogasari,” jelas wanita yang latar belakang pendidikannya seorang sarjana teknik itu.

Di tahun 2018, tempat produksinya pun berpindah. Ia kini memiliki tempat produksi sekaligus toko oleh-oleh dan tempat belajar membuat cake di Jl. MT. Haryono KM. 4,5, Kel. Batu Ampar Balikpapan Utara.

Melihat cake dari salak laku terjual, Riswah optimis salak dapat dijadikan produk lainnya. Berkat inovasinya, Riswah berhasil menciptakan produk lain dengan bahan baku salak seperti brownis, pie, cookies, klappertart, hingga asinan, sambal, sirup, ataupun dodol. Semua produk buatannya itu berbahan baku dari buah salak.

Dengan bertambahnya peminat Cake Salakilo, tentu ia tidak mampu mengerjakan semuanya sendiri. Wanita yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa itu mulai merangkul warga sekitar untuk menjadi karyawan produksi. Sampai akhir 2019, ia sudah mempekerjakan 10 orang karyawan.

Guna menunjang perkembangan usahanya, Riswah Yuni juga aktif berkegiatan di komunitas UKM yang ada di Balikpapan. Di sana, ia berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan anggota komunitas lainnya.

“Kita memang berkomitmen bisa bersinergi dengan teman-teman UKM yang ada di Balikpapan. Mereka bisa menitipkan produknya di outlet kami dengan sistem konsinyiasi. Jadi ketika ada wisatawan yang datang ke outlet kami, mereka bisa mendapatkan juga produk oleh-oleh khas Balikpapan lainnya,” ucapnya.

Berkat usahanya yang memanfaatkan panganan lokal, mempekerjakan warga sekitar, dan aktif menyebarkan inovasi bersama para UKM, tak heran Riswah Yuni banyak menyabet penghargaan dari pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan beberapa perusahan swasta lain seperti terpilihnya Cake Salakilo sebagai The Best of Category Silver pada Bogasari SME Award 2019.

Produk olahan Cake Salakilo bisa didapatkan dengan rentang harga Rp 10.000 – Rp 120.000 dengan daya tahan 6 hari di suhu ruang dan 30 hari di lemari pendingin. Cocok jika dijadikan produk oleh-oleh. Untuk mengembangkan usahanya, Cake Salakilo berencana akan mengekspor beberapa produknya hingga ke Swiss dan Turki. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.