POSTED: 14 Juli 2020

Setiap tahunnya ribuan orang berlatih di Bogasari Baking Centar (BBC) yang tersebar di berbagaai daerah. Mulai dari BBC yang di pulau Sumatera, Jawa dan terjauh Kalimantan. Sampai saat ini total BBC  berada di 15 kota, yakni Aceh, Medan, Palembang, Padang, Bandung, Cirebon, Bogor, Jakarta, Tangerang, Kediri, Semarang, Surabaya, Jombang, Samarinda dan Banjarmasin.

Dari ribuan alumni pelatiha BBC yang tersebar di berbagai kota tersebut, cukup banyak yang membuka usaha dan tidak sedikit yang berhasil meraih sukses. Bahkan ada yang menjadi “raksasa” bakery di sejumlah tempat. Termasuk diantaranya adalah Dea Bakery yang berlokasi di Malang.

Usaha yang dirintis dan dikelola Mulyani sejak tahun 2009 ini terus berkembang pesat setiap tahunnya. Sampai awal tahun 2020 ini, Dea Bakery sudah memiliki 21 outlet di willayah Malang dengan jumlah total karyawan 340 orang. Pencapaian sukses Dea Bakery ini mendapat apresiasi dari dewan juri sebagai The Best Bogasari SME Award 2019 kategori Platinum. Platinum adalah kategori keanggotaan Bogasari Mitra Card (BMC) dengan pemakaian terigu minimal 750 sak atau 18,75 ton per bulannya dan maksimal 3000 sak. 

Usaha Dea Bakery menghasilkan ribuan produk roti dengan jumlah varian sekitar 120 macam. Untuk menghasilkan ribuan roti setiap harinya,  Saat ini Dea Bakery sudah menghabiskan minimal 1 ton tepung Bogasari sehari atau rata-rata sekitar 40 ton per bulannya. Penggunaan terigu terbanyak ialah terigu Cakra Kembar Emas, yakni sekitar 80-90%. Sedangkan harga jual roti Dea Bakery beragam dari Rp 2.500 – Rp 18.000. Ada juga produk cake dengan harga di kisaran angka ratusan ribu.

Mulyani kecil lahir di Jakarta, 28 Agustus 1970 silam. Ia tumbuh dan besar di kota metropolitan hingga tahun 1996. Hanya berbekal ijazah SMA, ia merantau mencari nafkah ke kota Medan tahun 2004. Pernah bekerja di perusahaan swasta dan membuka  usaha mandiri. Jualannya macam-macam, mulai dari jualan mie ayam, pao, pakaian, dan bahkan ikan asin.

Setelah 4 tahun tinggal di Medan, ia memutuskan untuk belajar membuat kue di BBC Medan. “Proses itu saya nikmati sekali dan tertanam sampai sekarang. Saya tahu kalau misalnya bahan ini segini nanti hasilnya akan begini, Jika diberi tepung yang ini nanti hasilnya akan begini. Bersyukur saya pernah belajar di Bogasari,” jelasnya.

Rezeki memang dimana saja. Setahun kemudian 2009 Mulyani pindah ke Kota Apel, Malang, Jawa Timur. Di salah satu pasar, ia mencoba membuka toko bahan kue kecil bernama “Toko Dea”. Dea adalah nama anak bungsu yang selalu menemaninya membuat kue.

Ia kemudian mengajak para pelanggan dan saudaranya untuk membuat kue bersama. Ilmu yang didapatkannya dari BBC pun ditularkannya. Alhasil tempat yang awalnya hanya toko bahan kue, menjelma jadi sebuah tempat kursus membuat kue. Waktu terus berjalan, guna menambah wawasan, tahun 2006 Mulyani Kembali kursus di Bogasari.

Dengan alat dan bahan sederhana, akhirnya wanita tangguh ini membuka outlet bakery pertama. Bersama 6 orang karyawannya ia bisa membuat 1.000 roti per hari dengan 12 varian rasa, di antaranya abon, coklat, keju, dan kacang hijau. Saat itu harga roti buatannya dijual Rp 1.000. Sedangkan konsumsi terigu paling banyak 20 kg per hari.

“Saya dulu benar-benar jadi teknisi, yang lari ke sana-kemari, yang belanja ke sana-sini. Mulai persiapan, bikin kue dan roti, sampai pengirimannya. Itu berjalan selama setahun. Tahun 2010 awal, saya berani buka cabang,” ungkap wanita berusia 50 tahun itu.

Hampir setiap 3 bulan, Mulyani membuka outlet baru. Ketika sampai di outlet ke 7, ia mulai agak kelabakan mengelolanya. Akhirnya ia membangun suatu SOP (Standard Operational Procedure) agar semua bisa dikelola dengan mudah dan lancar.  Selama pembenahan manajemen, 3 tahun Dea Bakery stop buka gerai baru dan sibuk menerima serta mendidik tim kerja yang baru. 

Dea Bakery pun melakukan peremajaan di berbagai lini usahanya. Mulai dari logo, tagline, kemasan, desain outlet dan masih banyak lagi. Ibu 3 orang anak ini juga menanamkan 3 filosofi kemenangan dalam usahanya. Pertama,  kemenangan pelanggan. Dea Bakery harus memberikan kepuasan kepada pelanggan. “Karena jika mereka puas, mereka akan kembali membeli roti di Dea Bakery,” ucap Mulyani.

Kemenangan kedua, mitra kerja / karyawan. Kebutuhan mereka harus sangat kita perhatikan. Karena jika karyawan merasa nyaman, akan kerja secara loyal. Kemenangan ketiga ialah pemasok. “Kita harus mempermudah pembayaran agar mereka mempermudah proses distribusi,” tegas Mulyani.

Guna menjaga mental karyawan, Dea Bakery memiliki program De Avenger penghapal Al-Quran. Ia bersama karyawan mengadakan camp seperti pesantren kilat untuk menghapal Al-Quran. Tidak hanya itu, ada juga program pemberangkatan umrah untuk karyawan dan pelanggan. Secara rutin Dea Bakery juga memberikan bantuan sembako untuk warga sekitar, panti asuhan dan pondok pesantren.

“Kita nggak mau usaha ini hanya untuk mencari uang. Saya ingin usaha ini bisa menjadi jalan dakwah juga. Alhamdulillah, berkat doa dari mereka semua, Dea Bakery bisa terus berkembang menjadi seperti sekarang,” ucap  Mulyani sembari tersenyum.

Alhasil sampai awal tahun 2020, Dea Bakery sudah memiliki 21 gerai di willayah Malang.  Mayoritas produksi memakai terigu Cakra Kembar Emas. “Kalau pakai CKE ini memang betul bisa pakai air lebih banyak. Alhasil produk yang dibuat juga bisa jadi lebih banyak. Terus lebih putih, lebih halus , lebih tahan lama, dan nggak gampang kempes,” akunya.  (EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan