POSTED: 14 September 2020

Kisah usaha “Monica & Loren” yang berlokasi di Lampung seolah mengingatkan kita pada halaman awal tentang “Adila Snack” di Jambi yang mengawali sukses dari camilan keluarga. Wati Imbarti pemilik Adila Snack , adalah ibu rumah tangga yang coba membuat camilan keripik bawang untuk keluarga. Tak disangka berkembang menjadi sebuah usaha yang cukup sukses.

Demikian halnya dengan kisah usaha Monica & Loren, berawal dari kesukaan neneknya Ijlal Habibi membuat kue pia untuk keluarganya.  “Kebetulan oma (nenek) saya dulu sering membuat kue pia untuk cemilan keluarga, resepnya kemudian diberikan ke ibu saya, Srie Suraini. Akhirnya ibu coba membuat kue pia lalu dijual. Itu sekitar awal tahun 2000 dan umur saya masih 5 tahun waktu itu,” ungkap Ijlal Habibi, penerus usaha Monica & Loren.

Ijlal Habibi menceritakan, dari resep nenek buat kudapan keluarga lalu menjadi usaha rumahan yang dikerjakan ibunya sendirian. Produksinya sangat sedikit dan sehari paling menghabiskan kurang dari 15 kilo terigu terigu Segitiga Biru. Produk ibunya  saat itu  hanya kue pia dengan 3 varian rasa, yakni keju, coklat, dan kacang hijau.

“Satu karung terigu Segitiga Biru waktu itu paling baru bisa habis 1-2 hari. Harga jualnya juga masih Rp 500 per biji. Jalan 1 tahun, ibu saya mulai membuat roti dan mulai ada pegawai. Ibu belajar secara otodidak, hanya mencoba-coba saja,” jelasnya.

Ijlal Habibi  mengisahkan, merek usaha diambil dari nama kedua adiknya Monica dan Loren yang ternyata jadi mudah dikenal pembeli. Alhasil usaha terus berkembang dan sejak tahun 2018, anak pertama dari 3 bersaudara ini mulai pegang kendali usaha yang dirintis ibunya.

Di tangan lulusan sarjana salah satu universitas di pulau Jawa ini, usaha Monica & Loren makin berkembang. Yang awalnya hanya memasarkan di provinsi Lampung, kini sudah merambah ke Palembang, Jakarta, dan Tegal. Ia berpesan, kalau ada yang ingin memesan atau sekadar bertanya bisa langsung chat di akun Instagram @monicalorenbakrey.

Usaha yang dirintisnya ibunya, tak lagi hanya produksi pia. Tapi menjadi pabrik roti dan kue yang mampu menghabiskan 800 sak tepung Bogasari atau setara 20 ton per bulan. Bahkan jika menjelang lebaran dan akhir tahun, produksinya bisa mencapai 1.000 sak atau 25 ton.

“Tepung yang kami gunakan sekarang itu Cakra Kembar, Segitiga Biru, dan Lencana Merah. Pabrik ini dijalankan saya dan 40 orang karyawan. Ibu Hanya jadi pengawas saja,” ungkapnya.

Harga roti isi dan kue kering buatan Monica & Loren paling murah ada di harga Rp 4.000 dan yang paling mahal ada di harga Rp 18.000. Sedangkan untuk roti keringnya dijual dengan harga 10.000-20.000. Harga tersebut hanya berlaku di wilayah Lampung. Untuk di luar kota, harga bisa menyesuaikan.

Walaupun semakin besar, Monica & Loren tidak memiliki outlet khusus, ia hanya mengandalkan pabrik dan 1 ruangan khusus untuk menerima tamu yang akan membeli produknya. “Dari dulu sampai sekarang kita tidak membuka outlet. Lebih ke tempat konvensional. Dulu pertama kali kita mau jual ke konsumen, pasti kita titipkan. Setelah berjalan mulailah ada yang minta dan langsung datang ke pabrik,” ucap pria yang baru berusia 25 tahun itu.

Karena lokasi yang dekat dengan aliran sungai, beberapa kali Monica & Loren mengadakan program pembersihan sungai. Bahkan Ijlal dan beberapa karyawannya terjun langsung membersihkan sungai tersebut. Ia juga sering memberikan bantuan jika ada warga sekitar membutuhkan tambahan dana untuk pembangunan fasilitas umum seperti jalan raya dan lain sebagainya.

“Bahkan beberapa kegiatan keagamaan juga sering kami bantu. Misalnya kami berikan diskon saat memesan roti untuk snack box-nya. Kami juga ikut program ‘Jumat Berbagi’ di Lampung, jadi setiap Jumat kita membagikan makanan untuk orang-orang di pinggir jalan,” pungkasnya.

Atas kesuksesan dan juga kepedulian sosialnya Monica & Loren pun dipilih sebagai Nominator Bogasari SME Award 2019 kategori Gold. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan