POSTED: 05 January 2021

Adalah Katarina Lamur, yang terlahir di tengah keluarga yang pas-pasan di salah satu perkampungan di timur Indonesia, Manggarai, 29 September 1970. Ia memang hanya lulusan SMEA, tapi ketekunannya dalam menjalankan usaha membuahkan hasil yang gemilang. Bukan hanya untuk dinikmati dirinya sendiri dan keluarga, tapi juga untuk 6 adiknya serta sejumlah sanak saudara dari tanah kelahirannya.

“Saya anak sulung dari 7 bersaudara, makanya punya kewajiban untuk membantu meringakan beban orangtua khususnya dalam menyekolahkan adik-adik saya. Puji Tuhan minimal sampai SMA,” ucap wanita berusia 50 tahun yang akrab disapa Rina ini.

Modal untuk membantu biaya pendidikan adik-adiknya bersumber dari hasil usaha Roti Manis  Manggarai yang dirintisnya sejak tahun 1996, yang diawali dari membuat dan menjual kue pisang, kuping gajah, kacang telur, dan berbagai makanan ringan lainnya. Semua produk itu dibuatnya  sendiri dari hasil membaca buku-buku resep  dan menonton acara di televisi. “Kemampuan saya membuat kue dan roti, alami atau otodidak. Tidak kursus apalagi sekolah khusus, karena hanya SMEA,” ujarnya.

Jauh sebelum sukses menjadi pengusaha roti, Katarina yang termasuk siswa berprestasi lulusan SMEA tahun 1991 langsung dapat kesempatan kerja di kantor pemerintah bidang transmigrasi. Namun sebelum diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), tahun 1993 ia menikah dengan Donatus Djanggu dan  memutuskan urus keluarga. Namun seiring waktu berjalan kebutuhan ekonomi keluarga semakin terasa. Termasuk pendidikan adik-adiknya.

Tahun 1996 Rina pun mulai berjualan. Mulai dari jualan sayur, aneka makanan ringan ke sejumlah kios hingga akhirnya melirik usaha roti secara serius. Bermacam makanan ia buat dan jual. Saat usaha jualan makanan masih kecil-kecilan dan hanya berupa kios, tahun 2008 suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Tapi situasi ini justru membuat ibu dari 3 anak ini semakin gigih menekuni usahanya. Hanya beratap dahan pohon nira dan dinding dari seng bekas, ia membuka toko kecil di pinggir jalan.

Produk yang dulunya pie pisang, diganti dengan Roti Kompiang (roti khas Manggarai) yang sudah dia modifikasi. “Awalnya saya pake tepung terigu merek lain, tapi sering ada kekurangan stok di pabrik dan sering ada keluhan. Lalu saya dikenalkan tepung terigu Lencana Merah, hasilnya pas dan cocok seperti yang saya inginkan. Jarang ada kendala kekurangan stok terigu, makanya saya gunakan sampai sekarang,” ungkap Rina.

Waktu terus berjalan dan usaha Rina pun mulai berkembang. Ia pun mulai memiliki karyawan, namun lebih memilih memberdayakan sanak saudaranya dari kampung agar bisa sambil kerja dan sekolah. Terutama yang dari Manggarai yang sudah yatim piatu. “Mulai ada karyawan itu tahun 2014. Tahun 2015 itu saya bisa beli ruko (rumah toko), berkembang dan mulai terkumpul untuk beli rumah yang lebih besar,” ungkapnya .

Sebenarnya dalam ijin usaha, tokonya terdaftar dengan nama Idola Bakery. Nama itu merupakan usulan dari pihak dinas perindustrian karena dinilai rotinya digemari banyak kelompok usia. Rotinya yang dibuat dari terigu Lencana Merah diidolakan banyak orang.

“Saat bikin ijin dulu, nggak tahu dan belum tren nama Roti Manis Manggarai. Baru belakangan, dan sebagian pelanggan lebih mengenal produk kami dengan nama itu. Makanya plang nama usaha di rumah saya Roti Manis Manggarai,” ucap Rina.

Tahun demi tahun usahanya makin laris. Sehari bisa menghabiskan 10-12 sak terigu Lencana Merah per hari atau 360 sak per bulan. Berat 1 sak tepung terigu Bogasari sama dengan 25 kg, jadi minimal 9  ton terigu dalam sebulan. Dari 1 sak terigu Lencana Merah bisa menghasilkan 1.200 roti, maka dalam sehari usaha Rina menghasilkan 12 ribu Roti Manis Manggarai.

“Harga jualnya murah, hanya Rp 500 per roti atau Rp 10 ribu per bungkus isi 20. Dan untuk mengerjakan produksi dan penjualan, Rina mempekerjakan 14 karyawan. Tapi selama pandemi ini usaha kami merosot sedikit, sekitar 25%,” katanya.

Dari usaha roti ini, Rina dan suami mampu membiayai pendidikan 3 anaknya. Anak pertama dan kedua lulusan S-1, yakni Serilus Darman Djanggu dan Cornelia Dewi Djanggu. Bahkan anak ke-2 sedang melanjutkan studi S-2 di Surabaya.  Anak nomor 3, Mario Fernando Djanggu masih duduk di bangku kelas 3 SMA.  Dari anak pertamanya, Rina sudah mendapatkan 3 cucu.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Bogasari, karena dari usaha roti dengan terigu Lencana Merah ini saya bisa membangun rumah dua lantai, bisa beli ruko, dan beli mobil. Saya juga bisa ziarah rohani ke Yerussalem,” ucap Rina dengan haru.

Selain menggunakan terigu Lencana Merah, sesekali Rina memakai Segitiga Biru untuk

pesanan kue saat acara atau momen tertentu. Misalnya acara ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, Natal dan Idul Fitri. Salah satu kue yang buatnya adalah Bolu Wonder dengan beragam varian.  “Rencananya kami akan menambah varian rasa lainnya seperti cokelat, dan tiramisu,” tambahnya.

Rumah tinggal Rina dan keluarga, sekaligus lokasi produksi dan penjualan berada di Jalan Fetor Foenay, Maulafa, Kupang. Ia juga membuka gerai penjualan di Ruko Lontar Permai, Oebobo, Kupang. Bahkan rencananya Maret ini akan diresmikan satu ruko lagi di dekat kampus Unika Widya Mandira, Politeknik Negeri dan Politani Kupang, di daerah Penfui.  

Yang menariknya, anak ke-2 yang sedang kuliah S-2 di Surabaya namun karena masih online, maka memanfaatkan waktu membuat jenis makanan lain dari terigu dan dijual secara online. “Memang ketiga anak saya dari kecil sudah biasa bantu produksi sebelum ada karyawan. Nah yang nomor 2 ini sepertinya tertarik bisnis, makanya kuliah jurusan manajemen dan mulai usaha kecil-kecilan. Dia bikin Lapis Surabaya, Brownies, Roti Gulung dan macam-macamlah sesuai selera anak millennial katanya,” ucap Rina tertawa bangga. (EGI/REM/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel