POSTED: 25 Mei 2021

Ada peribahasa; Pucuk di cinta ulam pun tiba. Demikianlah yang dialami  ayah mertua dari Karina Octavia, pengelola usaha D’Almonde Bakery yang sudah berdiri sejak tahun 2009. Ide membuka usaha ini berawal dari kerinduan dan harapan sang mertua setelah pensiun dari TNI,  ingin buka usaha yang tidak hanya bermanfaat buat keluarga, tapi juga buat lingkungan. Saat yang bersamaan, ada keluarga yang baru berhenti kerja dari perusahan roti. Alhasil, jadilah pilihan usaha membuka bakery.

“Kebetulan juga ada lahan yang kosong yang dimiliki oleh keluarga, jadi dimanfaatkan sebagai tempat produksi. Awalnya kecil kan, Alhamdullilah, seiring berjalannya waktu, sambutan dari pelanggan cukup baik, sehingga kita bisa berkembang dan sampai saat ini sudah memiliki 4  outlet  bakery,” ungkap Karina yang dipercaya ayah mertuanya untuk meneruskan usaha roti itu sejak tahun 2019 bersama 2 adik dari suaminya, yakni Dwi Santo Riyandini dan Aga Tri Yulinda.

Di bawah kendali tiga wanita ini, D’Almonde Bakery yang dirintis mertua dan ayah mereka tahun 2009 lalu semakin berkembang. Saat pertama kali buka, bakery yang berlokasi di Jalan H. Hasan No.4B, RT02/RW02, Kelurahan Baru, Kecamatan. Pasar Rebo, Jakarta Timur ini mempekerjakan 10 karyawan. Namun total karyawan saat ini sudah mencapai 60 orang atau meningkat 6 kali lipat.

Dalam sebulan, D’Almonde Bakery bisa menghabiskan 80 sak terigu Cakra Kembar dan 40 sak terigu Segitiga Biru. Paling murah harga roti D’Almonde  Rp 9.000 dan paling mahal Rp 23 ribu. Sedangkan produk cake dijual dengan di kisaran Rp 195.000-Rp 245.000, tergantung ukuran.

“Kita lagi mengembangkan cake costumize nih. Kita gencar promosikannya di Instagram @dalmondebakery. Kalo produk yang lain kita masih kerjasama bareng Go-Food dan Grab Food. Dan karena pandemi kita membuka pemesanan melalui Whats App di 0812-9917-988 atau telepon langsung ke (021)-29841204 untuk kemudian kita antarkan pesanannya,” tutur wanita berhijab ini.

Karina memaparkan, sejak awal D’Almonde Bakery  sudah menggunakan tepung terigu Bogasari sesuai saran sang baker yang pernah kerja di perusahaan roti. Si baker menyarankan pakai terigu Cakra Kembar untuk roti dan Segitiga Biru untuk kue.

“Karena memang  terigu Bogasari yang sudah cukup baik dikenal di Indonesia dan terjamin kualitasnya. Terigunya punya kelebihan masing-masing sesuai kebutuhan produk kami. Sehingga hasilnya juga lebih baik dan lebih maksimal dibandingkan terigu yang lain. Bahan baku yang berkualitas, pasti menghasilkan produk bakery yang berkualitas juga,” tegas ibu 2 anak ini.

Awalnya produk roti  mereka banyak menggunakan almond makanya dipilih nama D’Almonde Bakery . Namun dalam perjalanannya isian roti produk D’Almonde Bakery kian beragam.  Ada srikaya, kacang ijo, kacang merah, kacang almond dan masih banyak lagi.

“Kita juga memerhatikan pengembangan dan keterampilan karyawan agar bisa melahirkan inovasi dan tidak ketinggalan tren. Kita komunikasi dengan bagian produksi apa saja hasil riset yang bisa diimplementasikan ke dalam bakery. Kita juga bekerja sama dengan beberapa pihak untuk menyediakan beberapa resep baru.  Terakhir, kita survei apakah produk bisa diterima oleh pelanggan atau tidak,” urai Karina antusias.

Memasuki bulan Ramadan dan menyambut Idul Fitri, 3 wanita muda bersaudara ini menyiapkan produk tambahan untuk pelanggannya, seperti puding, puding roti dan hampers. “Mendekati lebaran biasanya orang sudah dapat THR, saat itu permintaan tentang hampers meningkat. Memang dari sebelum Ramadan sudah kami siapkan paket-paket hampers. Yang dijual mulai dari Rp 285.000 sampai dengan Rp 480.000,” tambahnya.

Wanita berusia 40 tahun yang sukses kembangkan usaha keluarga ini mengajak para UKM untuk terus semangat dan jangan menyerah hadapai pandemi. “Kalau untuk makanan mungkin dijaga kualitas bahan bakunya, cermati kondisi lingkungan dimana kita berada , kenali siapa yang jadi target market kita. Dari situ kita bisa belajar apa yang jadi kebutuhan pengembangan usaha kita,” serunya. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.