POSTED: 12 Maret 2021

Menjadi seorang transmigran bukan halangan untuk bisa hidup mapan. Dan menjadi transmigran tidak melulu bekerja di sektor pertanian atau perkebunan. Itulah motto perjuangan hidup Suryanto, seorang juragan roti di Pontianak, Kalimantan Barat yang merupakan keluarga transmigran asal Ambarawa, Jawa Tengah. 

Tahun 1984, Suryanto yang baru kelas 2 SD terpaksa putus sekolah karena harus ikut orang tua dalam program transmigrasi dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan. Di usia yang baru 13 tahun, ia pun menjadi buruh di pabrik kerupuk. 10 Tahun menimba ilmu di sana, Suryanto mulai buka usaha kerupuk sendiri.

Akhirnya di tahun 2002 pria yang tidak lulus SD ini memutuskan buka usaha roti. Usahanya terus berkembang dengan merek Teguh Karya Bakery. Saat kondisi normal, usaha rotinya bisa  menghabiskan sampai 25 ton tepung terigu Bogasari dalam sebulan. Ia bahkan memasok roti untuk maskapai penerbangan.

 “Saya anak ke 4 dari 5 bersaudara. Waktu itu saya masih kelas 2 SD, ibu saya seorang petani transmigran. Pindah ke sini ke Pontianak,” ungkapnya.

Walau harus putus sekolah dan bekerja serabutan, Suryanto tidak pernah putus harapan untuk bisa hidup mapan. Suryanto yang sejak usia 5 bulan sudah ditinggal meninggal ayahnya, selalu yakin pasti ada jalan jika kita punya kemauan. Memasuki usia remaja, rasa tanggung jawab terhadap keluarganya semakin besar. Hampir setiap hari ia banting tulang, bekerja keras untuk membantu ibunya membeli beras.

Sekitar tahun 1990 Suryanto memilih bekerja dan menimba ilmu di sebuah pabrik kerupuk di Pontianak. Setelah sekitar 10 tahun bekerja, ia merasa cukup ilmu dan coba peruntungan dengan membuka usaha kerupuk sendiri di Kalimantan Tengah.

Peruntungannya sebagai pengusaha kerupuk hanya bertahan 2 tahun. Ia pun memutuskan kembali ke Pontianak dan banting stir jadi pengusaha roti. Dengan modal sisa-sisa dari usaha kerupuk ia mengontrak sebuah tempat untuk dijadikan dapur produksi.

“Buka usaha roti ini tahun 2002. Awalnya habis terigu 5 kg, 10 kg terus naik terus. Kita hanya produksi roti pia kacang hijau. Yang mengerjakan saya, istri dibantu 2 karyawan. Tapi saya dan istri yang lebih banyak mengerjakannya. Ngalos juga saya yang kerjakan,” papar pria berkumis tebal ini.

Bisa dikatakan, Suryanto adalah orang awam yang ingin memulai usaha roti. Karenanya di awal usaha ia menggunakan tepung terigu apa saja untuk membuat roti. Mulai dari Segitiga Biru, Lencana Merah, Kunci Biru hingga Cakra Kembar. Yang penting ada terigu untuk membuat roti.

Walau demikian, pria yang tidak tamat SD ini tetap menekuni usaha barunya yang diberi nama “Teguh Karya”. Sesuai dengan nama anak pertamanya Teguh Siswantoro yang juga merupakan gambaran semangat hidup Suryanto yang teguh dalam berusaha. Berkat keteguhannya di tahun ke-3, Suryanto bisa membeli ruko untuk dijadikan tempat produksi.

Belajar di BBC

Selama 4 tahun Teguh Karya bertahan dengan hanya membuat roti pia kacang hijau. Semangat berkarya dalam dirinya berontak, Ia tak bisa bertahan dengan keadaan seperti itu. Sekitar tahun 2005-2006,  Suryanto pun terbang ke Jakarta untuk mengikuti kursus membuat roti di Bogasari Baking Center (BBC) Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Suryanto berlatih selama 2 hari untuk membuat aneka roti seperti roti isi srikaya, roti isi cokelat, donat dan lain-lain. Ia pun belajar mengenai bahan-bahan yang baik untuk memproduksi roti. “Ada kemajuanlah setelah belajar dari BBC. Kita jadi tahu tepung yang baik untuk membuat roti, yakni tepung terigu Cakra Kembar dan bagaimana cara mengembangkan resep dari rotinya. Banyak kemajuan pokoknya,” akunya seraya mengucap syukur.

Varian rasa yang diproduksi Teguh Karya Bakery semakin banyak. Saking banyaknya, ia pun tidak hapal. Diantaranya roti pia kacang hijau, pia cokelat, srikaya, cokelat, pisang cokelat, blueberry, hamburger, roti jhon, roti bakar bandung, dan masih banyak lagi. Tak jarang Suryanto membuatkan pesanan dari hotel-hotel dan beberapa perusahaan maskapai penerbangan. Makanya semua ijin usahanya sudah lengkap, terutama dari MUI, dari dinas kesehatan, dan dinas lingkungan.

 

Investasi Alat

Setelah sukses berinovasi, permintaan roti produksi Teguh Karya Bakery terus meningkat. Alhasil tahun 2011, ayah 3 anak ini mulai investasi beberapa mesin besar pembuat roti. “Waktu itu ada orang Bogasari yang nengok ke tempat produksi, terus menyarankan agar menggunakan mesin, biar produksinya lebih efektif dan efisien. Dari situ saya kepikiran dan mulai mengumpulkan untuk membeli mesin,” ungkapnya.

Yang pertama dibelinya mesin packing dari Surabaya. Kemudian merambah ke mesin mixing, cetak, dan banyak lagi. Semuanya bertahap sesuai dana yang ada. Alhasil produksinya meningkat drastis. Tahun 2017, Teguh Karya Bakery mampu menghabiskan 40 sak / 1 ton terigu Cakra Kembar dalam 1 hari atau sekitar 1000 sak atau 25 ton per bulan.

Karena pandemi, produksinya menurun sekitar 20-25%. Jadi dalam sehari hanya bisa menghabiskan sekitar 30 sak terigu Cakra Kembar atau 800 sak per bulan, yang sama dengan 20 ton per bulan.

Suryanto bersyukur, banyak yang ingin terlibat mengembangkan usahanya. Bahkan kakak, adik dan beberapa saudaranya turut membantu langsung dalam pengembangan dan distribusinya. Sehingga penyebaran produknya sudah meliputi seluruh wilayah Kalimantan Barat dan beberapa wilayah di Kalimantan tengah. “Paling murah roti buatan kami dijual dengan harga Rp 2.000 dan yang paling mahal Rp 15.000,” ucap pria berusia 45 tahun ini.

Guna mencukupi kebutuhan pasar, jumlah karyawan produksinya terdiri dari 16 pria dan 3 perempuan. Ada yang merupakan warga sekitar, ada juga yang berasal dari Pulau Jawa. Untuk karyawan perantau, Suryanto sengaja menyediakan tempat tinggal dan beberapa fasilitas untuk mereka gunakan. Mereka mulai produksi sekitar jam 6 pagi hingga jam 5 sore, setiap harinya. Terkecuali Minggu, sengaja untuk istirahat karyawan dan berbagai kegiatan syukuran.

“Hari minggu sengaja saya liburkan produksi. Kami ganti dengan kegiatan keagamaan agar usaha makin berkah. Alhamdulillah, usaha ini bisa bermanfaat bagi keluarga saya dan warga sekitar. Kami juga ada garasi serba guna yang bisa dimanfaatkan warga jika ada keperluan,” jelasnya bangga.

Suryanto tidak ragu membeberkan rahasia suksesnya. Pertama harus semangat dan kedua harus jujur. “Jujur itu yang utama bagi saya. Apapun risikonya kalau kita jujur, Insya Allah, Allah pasti kasih jalan terbaik untuk kita,” ucap pria yang sedang menunggu waktu untuk berangkat ibadah haji ini. (EGI/REM)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan