POSTED: 18 Januari 2021

Mungkin bagi sebagian orang berdagang gorengan apalagi di pinggir jalan bukanlah hal yang menarik dan menyenangkan. Tapi cara pandang itu bisa berubah saat mengetahui omset berdagang gorengan di pinggir jalan dalam sehari bisa mencapai Rp 4 juta. Atau dalam sebulan minimal Rp 100 juta, setara upah direktur sebuah perusahaan.

Ini bukan khayalan. Inilah kesaksian pasangan suami istri, Jabidin dan Darmawati pemilik usaha gorengan “Molen Rasa” di Kota Kupang, Nusa Tenggara. Dalam sehari omset aneka gorengan yang mereka jajakan dengan tiga gerobak mangkal bisa mencapai Rp 4 juta. Yang mereka jual hanya pisang molen biasa. Tapi belakangan mereka kembangkan dengan berbagai varian isi dan rasa. Seperti kacang ijo, strawberry, cokelat, caramel dan lain-lain.

“Strawberry dan cokelat merupakan rasa favorit anak-anak di kupang. Sedangkan untuk orang dewasa, kebanyakan membeli yang rasa cokelat. Pisang molen ini kami jual dengan harga hanya Rp 2.000 per 3 molen,” ungkap Darmawati. 

Pasangan suami istri ini sebenarnya bukan asli orang Kupang. Jabidin asal Indramayu kelahiran 2 April 1993, sedangkan istrinya asli Bugis, tapi kedua orangtuanya sudah lama merantau ke Kupang. Perkenalan mereka juga tidak jauh dari urusan gorengan. Mereka bertemu di Samarinda. Saat itu Jabidin bekerja sebagai pegawai di salah satu pemilik usaha gorengan, sedangkan Darmawati kerja di toko elektronik.

Bermula sebagai pembeli gorengan di tempat Jabidin bekerja, cinta mereka pun bersemi hingga ke mahligai perkawinan di tahun 2014. Darmawati kemudian mengajak suaminya untuk merintis dagang gorengan sendiri di kampung orangtuanya, Kupang di tahun itu juga.  

“Mungkin kami adalah perintis usaha gorengan di Kupang. Karena orang Kupang tidak biasa makan pisang goreng atau aneka gorengan lainnya, apalagi yang di pinggir jalan. Berbekal 1 gerobak dan terpal kami pun dagang gorengan,” ucap Darmawati, wanita kelahiran 26 Juni 1978 ini.

Awalnya dagangan mereka hanya menghabiskan 3 kg terigu Segitiga Biru untuk membuat gorengan pisang molen, tahu dan tempe. Mereka pun menekuni dengan sungguh dan semakin berkembang. Konsumsi terigu Segitiiga Biru menjadi 25 kg atau 1 sak sehari untuk membuat 600 kulit molen dan 15 kg terigu Cakra Kembar untuk membuat kulit pisang caramel.

“Bersyukur, sekarang kami sudah punya 3 tempat penjualan dan 9 karyawan yang membantu memproduksi pisang molen rasa. Karyawan kami saudara dari kampung suami di Indramayu untuk bantu produksi dan berjualan. Hasil penjualan 3 gerobak gorengan kami antara Rp 3-4  juta per hari,” ucapnya sumringah.

Walau jualan di pinggir jalan, ia tidak perlu mengeluarkan banyak cuan untuk menyewa tempatnya. Bahkan si pemilik lahan membebaskan mereka untuk membayar sewa lahan seikhlasnya saja.  Tapi dengan berbagai pertimbangan,  Darmawati dan suaminya sepakat membayar sekitar Rp 500 ribu per bulan untuk biaya sewa 1 tempat jualan.

“Sekarang sudah ada 3 tempat jualan, mulai buka jam 2 siang sampai sehabisnya. Untuk produksinya mulai dari jam 07.30 pagi sampai jam 11 siang. Tapi 2 minggu sekali kami libur untuk memberikan kesempatan istirahat kepada karyawan,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Darmawati dan Jabidin mengatakan bahwa rejeki sudah ada yang atur. Yang penting mau bekerja keras dan tetap bersyukur, walau hanya berdagang gorengan. “Namanya usaha, pasti naik turun. Yang penting disyukuri dan dijalani dengan sungguh-sungguh,”  kata Darmwati. (EGI/REM/RAP)

 

 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan