POSTED: 12 Februari 2021

 Dari raut wajahnya tampak jelas kalau ayah dari 5 anak ini seorang pekerja keras. Tekun dan gigih sudah menjadi prinsipnya dalam menekuni usaha selama 22 tahun lebih. Meski awalnya hanya meneruskan usaha pamannya, akhirnya Tjhang Bui Khiong justru meraih sukses.

Usaha pria yang hanya tamatan kelas 3 SD ini tidak hanya dipasarkan di sekitar Singkawang dan beberapa daerah di Kalimantan Barat, tapi sampai ke DKI Jakarta. Apalagi memasuki tahun Baru Imlek, pesanan meningkat berkali lipat. Makanya usaha kue pia dengan merek Nyian Hiong ini bisa menghabiskan sekitar 3,1 ton tepung terigu Bogasari setiap bulannya.

“Biasanya pesanan banyak di waktu-waktu tertentu, seperti Imlek dan Cap Gomeh. Sembahyang kuburan di bulan 3 dan bulan 7. Itu selalu kita banyak orderan,” ucap Tjhang Bui Khiong yang membuka usaha di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Pia atau yang lebih dikenal dengan bakpia merupakan kue khas China. Pia berasal dari China bagian selatan. Kue ini terbuat dari adonan tepung terigu dan lemak. Sehingga saat dipanggang renyah dan terasa berlapis-lapis. Adonan kulitnya ada yang sedikit keras dan kenyal serta ada juga yang tipis renyah. Isiannya pun beragam, dari manis hingga gurih. Namun di Indonesia, lebih banyak bakpia dengan isian bahan manis.

Pia buatan Tjhang Bui Khiong lebih dikenal dengan nama Kue Bulan atau Moon Cake. Bentuk asli kue ini bulat mirip kue bakpia. Dalam bahasa Hokkian, kue khas Cina itu dikenal dengan sebutan gwee pia atau tiong ciu pia. Karena memang khas Mandarin, makanya tak heran  dalam daftar menu dan harga menggunakan bahasa Mandarin. Misalnya Tau Sa Pia yang artinya Pia rasa kacang hijau dan Go Jin Pia yaini Pia rasa labu.
Dalam menjalankan usahanya, Tjhang Bui Khiong  dibantu 8 orang karyawan. Untuk sehari produksi mereka bisa menghabiskan 4-5 sak (@ 25 kg) terigu Segitiga Biru untuk membuat pia bulan dan kue kering lainnya. Terigu Segitiga Biru sudah dia pakai sejak pertama kali produksi sendiri sekitar tahun 1998 silam. Sebelumnya ia membantu usaha pamannya.

“Dari dulu sudah pakai tepung terigu Segitiga Biru. Bahkan sejak kita belajar dulu dengan paman. Sekarang paman sudah tidak membuat kue lagi. Dari saya mulai usaha tahun 1998 hingga sekarang, saya tidak pernah ganti itu tepung terigu Bogasari,” ungkapnya.

Selama sekitar 22 tahun memakai tepung Bogasari, menurutnya kualitas terigu Segitiga Biru konsisten. Makanya tidak mau pindah ke lain produk karena khawatir kualitasnya produknya menjadi menurun. Ia mengaku pernah ditawari tepung merek pabrik lain. Tapi setelah dicoba, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang selama ini dibuatnya.

“Pernah ada juga ada yang menawarakan tepung terigu merek lain. Mereka meminta saya coba dulu. Saya coba 1 kilo 2 kilo tapi hasilnya lain, malah jadi keras. Dari situ saya tidak mau lagi coba-coba terigu lain untuk memproduksi pia bulan,” ucapnya.

Sampai saat ini ada 3 varian rasa produksi pia bulannya, yakni rasa kacang hijau, kacang almond, dan kacang mete. Selain dijual langsung di pabrik, ia juga menitipkan di toko-toko di wilayah Singkawang, Sungai Pinyuh, Sintang, dan sekitarnya. Bahkan ada juga reseller yang menjualnya di Jakarta karena pia bulan ini tahan sampai sekitar 15 hari.

Harga produk Pia Bulan tergantung variasi dan ukuran. Yang pasti harga terendah Rp 45 ribu dan tertinggi Rp 145 ribu.  “Kalau banyak biasanya mereka ambil sendiri, tapi kalau sedikit kami yang kirim. Dan kalau yang sudah biasa kita titipkan, biasanya kita yang kirim ke sana,” lanjutnya.

Tjhang Bui Khiong bersyukur, dari usaha pia bulan ini tidak hanya menghidupi keluarganya, tapi juga menyekolahkan 7 adiknya. Ia sedang berusaha mengurus sertfikat halal agar lebih mudah mengembangkan usahanya. (EGI/REM/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan